Review Windrose: Janji Petualangan Bajak Laut yang Menggoda

Windrose adalah game dengan fondasi yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya matang sangat bisa dimaklumi mengingat masih dalam tahap early acces.

Review Game
Review Windrose oleh Gamedaim Review
Komentar

Seringkali, sebuah game dinilai dari seberapa cepat kita bisa mencapai tujuan akhir. Namun, Windrose justru menghukum mereka yang terburu-buru. Melalui karakter-karakter yang terasa sangat ‘manusiawi’ dan dunia yang penuh dengan simbolisme, game ini memaksa kita untuk menanggalkan mentalitas ‘penyelesaian misi’ dan menggantinya dengan rasa ingin tahu yang murni.

Bagi banyak orang, ini adalah surat cinta bagi para penjelajah. Namun bagi sebagian lainnya, ia adalah teka-teki yang terlalu samar untuk dipecahkan. Mari kita telusuri lebih jauh apakah Windrose memang sebuah mahakarya naratif yang emosional, atau sekadar proyek ambisius yang terjebak dalam narasinya sendiri.

Terima kasih kepada Kraken Express telah memberikan kesempatan kepada Kami untuk mencoba dan bermain Windrose. Mari simak pengalaman Penulis menjadi seorang Bajak Laut di bawah ini!

Membedah Narasi Windrose: Antara Melankoli dan Kebebasan Menjelajah

Review Windrose Gamedaim Review 6
Narasi pembuka game windrose

Di tengah gempuran game aksi yang serba cepat, Windrose muncul sebagai sebuah anomali yang memikat. Game ini tidak hanya menjual keindahan visual, tetapi juga narasi mendalam yang mengajak pemainnya untuk berhenti sejenak dan benar-benar “merasakan” dunia di dalamnya. Namun, apa sebenarnya yang membuat ceritanya begitu ramai diperbincangkan?

Kelebihan utama yang membuat banyak orang jatuh cinta pada Windrose adalah cara mereka membangun dunia (world-building). Alih-alih memberikan penjelasan panjang melalui teks yang membosankan, narasi Windrose disampaikan secara organik. Pemain akan menemukan kepingan sejarah melalui sisa-sisa reruntuhan atau dialog singkat dengan NPC yang terasa sangat manusiawi.

Karakter di dalam game ini tidak terasa seperti robot untuk menyelesaikan misi. Mereka memiliki motivasi, ketakutan, dan luka masa lalu yang terungkap perlahan seiring kedekatan pemain dengan mereka. Pendekatan emosional inilah yang memberikan rasa keterikatan, membuat setiap keputusan dalam cerita terasa memiliki beban moral yang nyata.

Namun, bukan berarti narasi Windrose tanpa cela. Kritik yang paling sering muncul adalah mengenai pacing atau tempo cerita. Bagi sebagian pemain, Windrose memiliki awal yang sangat lambat (slow burn). Cerita tidak langsung meledak di awal, melainkan menumpuk perlahan-lahan. Bagi mereka yang terbiasa dengan narasi yang progresif dan cepat, hal ini sering kali dianggap membosankan.

Selain itu, aspek ambiguitas dalam ceritanya juga sering menjadi perdebatan. Windrose banyak menggunakan simbolisme dan membiarkan beberapa bagian cerita tetap menjadi misteri untuk diinterpretasikan sendiri oleh pemain. Bagi pecinta teori konspirasi, ini adalah nilai plus. Namun, bagi pemain yang menginginkan konklusi cerita yang jelas dan hitam-putih, gaya penceritaan seperti ini sering dianggap terlalu samar atau menggantung.

Kesan Awal Bermain: Menarik, dan Kejam

Review Windrose Gamedaim Review 5
Scene Pembuka dalam Windrose

Saat mulai benar-benar bermain, hal pertama yang terasa adalah Windrose ingin menjadi game survival yang ramah untuk banyak pemain. Elemen survival di sini tidak terlalu kejam. Lapar, makanan, dan kebutuhan dasar hadir sebagai sistem pendukung, tetapi belum terasa sekeras game survival lain yang membuat setiap keputusan jadi sangat menegangkan.

Sistem survival-nya cenderung ringan, dengan makanan lebih berfungsi sebagai pemberi buff ketimbang ancaman hidup-mati. Buat sebagian pemain, ini bisa jadi kabar baik karena permainan terasa lebih santai. Namun buat yang mencari sensasi bertahan hidup yang intens, pendekatan ini mungkin terasa kurang menggigit.

Dari sisi suasana, Windrose cukup berhasil membangun kesan petualangan. Lautan, pulau, reruntuhan, dan area eksplorasi punya aura yang lumayan menggoda untuk dijelajahi. Ada rasa penasaran kecil yang terus mendorong pemain untuk bergerak lebih jauh, mengumpulkan sumber daya, mendapatkan resep baru, dan memperkuat markas atau kapal. Hanya saja, untuk saat ini rasa “wah” Penulis semakin turun karena terlalu repetitive.

Penulis juga merasa Windrose seperti sedang berdiri di dua kaki yang belum sepenuhnya seimbang. Di satu sisi, ia ingin menjadi game survival-crafting dengan pembangunan markas yang fleksibel. Di sisi lain, ia ingin menjadi game aksi bajak laut dengan pertarungan dan eksplorasi laut sebagai daya tarik utama.

Masalahnya, pada pengalaman awal bermain, porsi dua elemen itu belum terasa sama kuatnya. Untuk saat ini, Windrose lebih seperti Angkatan Laut dibadingkan Bajak Laut karena kita lebih banyak menjaga apa yang kita punya daripada membajak apa yang lawan punya.

Bagi Penulis, Windrose belum sampai pada titik di mana “ini game bajak laut terbaik,” namun juga belum jatuh ke kategori pengalaman yang mengecewakan. Posisi justru ada di tengah, seru di beberapa bagian, tetapi masih cukup cepat menimbulkan rasa bosan apalagi kalau bermain mode solo player.

Gameplay dan Mekanik: Fleksibel, Tapi Kadang Tanggung

Review Windrose Gamedaim Review 9
Pilihan sudut tembok dalam game windrose

Salah satu sistem yang cukup sering dipakai di awal permainan adalah membangun. Dalam hal ini, Windrose sebenarnya punya modal yang bagus. Saat harus membangun bangunan seperti rumah, struktur dasar, atau dek kapal, sistemnya terasa cukup fleksibel.

Pemain diberi ruang untuk mencoba banyak penempatan dan menyesuaikan bentuk bangunan sesuai kebutuhan. Secara konsep, ini menyenangkan karena membangun markas atau area sendiri memang jadi salah satu kepuasan dalam game survival.

Namun fleksibel belum tentu intuitif. Di sinilah Penulis mulai menemukan gesekan kecil yang cukup sering mengganggu. Terkadang posisi bangunan agak susah menyesuaikan dengan struktur yang sudah ada. Sudutnya tidak selalu nyaman, titik tempelnya terkadang rewel, dan proses menyesuaikan potongan bangunan bisa memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya.

Saat pemain ingin menyusun rumah, dermaga, atau memperluas area tertentu, seharusnya tantangan datang dari kreativitas, bukan dari sistem penempatan yang bikin repot. Jadi, meskipun sistemnya memberi kebebasan, eksekusinya belum selalu nyaman untuk saat ini.

Sebagai game bertema bajak laut, Penulis berharap laut menjadi panggung utama yang paling hidup. Tapi pada kenyataannya, Game ini punya pertempuran darat yang cukup dominan, bahkan lebih dominan daripada yang Penulis bayangkan untuk game bertema bajak laut.

Pertarungan daratnya membawa nuansa soulslite, dengan stamina, timing, dan pengamatan pola serangan musuh yang cukup penting. Pemain tidak bisa asal menekan tombol lalu berharap semua musuh tumbang.

Di laut, musuh yang paling terasa sering hadir justru ombak tinggi dan kapal bajak laut lain. Memang ada sensasi berlayar, dan menjaga arah, tetapi intensitas konflik lautnya belum sepadat yang Penulis pikirkan.

Contoh paling terasa adalah saat kita bisa naik ke kapal bajak laut lain. Di atas kertas, ini terdengar sangat keren. Harusnya momen boarding seperti ini jadi salah satu momen paling mendebarkan dalam game bajak laut karena ketiuka lompat ke kapal lawan, menghabisi awaknya, merebut kendali, lalu merampas hasil jarahan.

Review Windrose Gamedaim Review
Tidak bisa menggunakan kapal musuh

Sayangnya, Penulis rasakan justru kebalikannya. Kita memang bisa naik ke kapal bajak laut lain, tetapi tidak ada gunanya yang benar-benar memuaskan. Tidak ada sensasi mengambil alih kapal, tidak ada looting yang terasa berarti, dan tidak ada hasil besar yang membuat aksi itu terasa layak dilakukan.

Karena itu, sistem boarding terasa seperti ide bagus yang belum selesai. Ada dan bisa dilakukan, tetapi belum memberi hadiah atau konsekuensi gameplay yang cukup menarik. Dampaknya cukup besar karena salah satu fantasi utama menjadi bajak laut justru ada di sana, merampas kapal musuh, mengambil hasilnya, lalu memperkuat armada sendiri. Saat fitur seperti itu belum memberi hasil yang sepadan, pengalaman bajak lautnya otomatis terasa kurang utuh.

Untuk pertarungan antara kapal sudah cukup immersive, apalagi tembakan meriam yang benar-benar harus diperhitungkan untuk memastikan tembakan bisa mengenai target. Tapi, gerakan kapalnya sangat aneh karena memiliki kecepatan layaknya sebuah mobil balap. Hal ini hanya terjadi pada kapal besar milik NPC maupun pemain.

Masalah lain yang ditimbulkan karena kecepatan ini adalah sulitnya untuk menyenderkan ke dermaga yang sudah Penulis bangun. Awalnya Penulis membangun dermaga karena masalah kapal yang sangat jauh dari daratan, kalau harus berenang akan menghabiskan energi dan akan mengurangi HP. Namun, ketika melakukan recall di dermaga, posisi kapal malah semakin jauh bukan mendekat ke dermaga.

Performa Teknis: Lautan Cantik, Tapi Bebannya Terasa

Review Windrose oleh Gamedaim Review
Scene dalam game windrose

Dari sisi teknikal, Windrose memberi kesan yang cukup jelas sejak awal: game ini lumayan berat. Penulis memainkannya dengan kombinasi Ryzen 5 5600, GPU RTX 3060 12GB, RAM 16GB DDR4 3200MHz, dan SSD NVMe Gen 3 2TB.

Dengan preset medium di resolusi 1080p, performa yang Penulis dapat hanya berada di kisaran 50 sampai 55 fps. Masih cukup playable, tetapi juga menunjukkan bahwa optimasi game belum benar-benar ringan untuk ukuran setelan menengah dan spesifikasi yang masih tergolong solid untuk gaming 1080p.

Alasan utama mengapa game ini terasa cukup berat kemungkinan besar ada pada kualitas detail lautannya. Jujur saja, laut di Windrose punya kualitas visual yang cukup baik. Permukaan air, suara dan gerakan ombak, serta suasana perairan berhasil memberi kesan seperti memang berada di atas lautan sesungguhnya. Jadi, ada semacam kompromi yang langsung terasa, visual lautnya jadi salah satu kekuatan game, tetapi juga ikut menyumbang beban performa.

Kalau dilihat dari pengalaman bermain, masalah performa ini tidak selalu membuat game jadi buruk. Tapi ia cukup memengaruhi rasa nyaman, terutama saat pertarungan seharusnya jadi bagian paling immersive dalam permainan. Ini penting, karena game survival dan eksplorasi seperti Windrose biasanya lebih enak dinikmati saat performanya stabil dan mulus.

Jadi secara teknikal, Windrose merupakan game yang visualnya cukup baik. Hanya saja, keindahan itu datang bersama tuntutan performa yang belum sepenuhnya ideal.

Selain dari aspek visual, kontrol dari Windrose juga memerlukan beberapa penyesuaian pribadi karena beberapa tombol cukup asing bagi penulis, misalnya tombol alt untuk aim ketika menggunakan senjata api. Untuk pindah item juga harus pencet tombol keyboard, belum ada opsi untuk menggantinya dengan scroll wheel.

Review Windrose Gamedaim Review
Setting gamepad dalam windrose

Dalam memainkan game ini bisa saja menggunakan gamepad, namun tingkat kenyamanannya yang berbeda karena sejak awal Windrose dibuat untuk keyboard + mouse. Misalnya, shortcut item yang dibagi menjadi dua bagian sehingga untuk menggunakannya membutuhkan kombinasi tombol pada gamepad.

Apakah Windrose Sudah Layak Dinikmati Sekarang?

Setelah menghabiskan beberapa jam bersama Windrose, kesan Penulis merasa ini adalah game dengan fondasi yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya matang. Ia punya tema yang kuat, dunia yang cukup menarik, visual laut yang indah, serta sistem pembangunan dan pertarungan yang punya potensi berkembang besar.

Penulis paling suka dari Windrose adalah ia tetap berhasil memunculkan rasa petualangan. Ada momen ketika berlayar, melihat lautan, lalu bergerak menuju tujuan baru yang membuat Penulis merasa sedang menjadi seorang bajak laut.

Tapi momen itu sering tertahan oleh beberapa hal, seperti narasi yang belum sekuat ekspektasi awal, sistem building yang kurang intuitif, dominasi pertarungan darat yang terasa agak bertentangan dengan tema bajak laut, serta fitur boarding yang belum memberi hasil memuaskan.

Kalau harus menilainya sebagai impresi awal, Penulis akan bilang Windrose adalah game yang mudah bikin penasaran, cukup seru dimainkan, tetapi belum sepenuhnya berhasil memenuhi fantasi menjadi bajak laut yang benar-benar liar dan bebas.

Masih banyak potensi, terutama bila pengembang nanti memperbaiki optimasi, menambah bobot narasi, memperhalus sistem building, dan membuat aktivitas di laut jauh lebih penting serta lebih menguntungkan bagi pemain.

Kalau kamu memang suka tema bajak laut, suka membangun, dan berkelana, meskipun perkembangan game masih dalam fase awal, game ini masih layak dicoba. Tetapi kalau kamu menginginkan pengalaman bajak laut yang benar-benar matang, kaya fitur laut, dan sangat halus secara teknis, maka harus menunggu beberapa update lagi. Windrose saat ini lebih terasa seperti Indiana Jones dibandingkan Pirates of the Carribean.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Windrose adalah game dengan fondasi yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya matang sangat bisa dimaklumi mengingat masih dalam tahap early acces. Kalau kamu memang suka tema bajak laut, suka membangun, dan tidak masalah dengan beberapa masalah yang ada, game sangat layak untuk dicoba. Tetapi kalau kamu menginginkan pengalaman bajak laut yang benar-benar matang, kaya fitur di lautan, dan sangat halus secara teknis, sebaiknya sabar terlebih dahulu sampai sudah full rilis nanti.

Windrose saat ini sudah tersedia di platform kesayangan Penulis, Steam, dengan harga Rp245.999 untuk versi standar dan Rp327.998 untuk versi Supporter bundle.

Kelebihan (Pros):

  • Atmosfer bajak lautnya kuat dan langsung terasa sejak awal permainan.
  • Visual laut menjadi daya tarik terbesar dengan detail air dan suasana pelayaran yang memukau.
  • Sistem building cukup fleksibel, memberikan pemain kebebasan menyusun struktur.
  • Memiliki fondasi gameplay perpaduan survival, crafting, dan eksplorasi yang menjanjikan.
  • Cocok untuk pemain yang mencari game survival-crafting bajak laut, namun lebih santai.

Kekurangan (Cons):

  • Performa cukup berat (hanya berjalan 50-55 fps di 1080p Medium dengan spesifikasi Ryzen 5 5600 dan RTX 3060 12GB).
  • Sistem building fleksibel namun kurang intuitif karena posisi bangunan kadang tidak mau menempel dengan yang sudah ada.
  • Aktivitas di laut masih terbatas dengan ancaman yang kurang beragam (sebatas ombak tinggi dan kapal lain).
  • Fitur boarding (naik ke kapal musuh) belum berguna karena pemain tidak bisa mengambil alih kapal atau melakukan looting yang berarti.

Follow Gamedaim — everywhere

Stay updated wherever you scroll.

Lanjut baca

Asus Rog Azoth X Gamedaim Review
Review

Review ROG Azoth X: Sensasi Mengetik ‘Creamy’ yang Sopan di Telinga

21 April 2026 Alfryan Irgie 9 mnt baca

ROG Azoth X cocok untuk Professional yang suka bermain game karena kenyamanan mengetik ribuan kata untuk bekerja, namun ingin performa responsif saat bermain game kompetitif di…

Baca selengkapnya