Dunia game tidak pernah kekurangan kisah tentang pahlawan gagah berani yang berusaha menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun, bagaimana jika pahlawan tersebut bukanlah seorang ksatria berbaju zirah, melainkan sesosok zombi konyol yang didorong oleh motivasi yang sangat tidak biasa? Inilah yang ditawarkan oleh Stupid Never Dies, sebuah game action RPG bergaya roguelite yang memadukan humor absurd, aksi beat ‘em up bertempo cepat, serta estetika visual pop-punk yang sangat mencolok.
Sejak pertama kali diumumkan, game ini berhasil mencuri perhatian penulis berkat pendekatan cerita dan mekanik gameplay yang tergolong unik. Mengambil peran sebagai Davy, zombi paling lemah namun paling nekat di dunia monster, kalian tidak dipaksa untuk menyelamatkan dunia, melainkan berjuang menembus dungeon berbahaya demi mengejar cinta kepada seorang gadis manusia bernama Julia.
Pendekatan naratif yang santai dan penuh lelucon konyol ini menjadi angin segar di tengah maraknya game modern yang terlalu fokus pada cerita berat dan dramatis. Penulis melihat Stupid Never Dies berhasil memberikan identitas yang jelas sejak menit pertama kalian menginjakkan kaki di permainannya.
Dari segi gameplay, game ini tidak hanya mengandalkan lelucon visual semata. Sistem pertarungan hack-and-slash yang ditawarkan terasa sangat responsif dan memuaskan. Elemen roguelite yang diusung membuat setiap kekalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses untuk tumbuh menjadi lebih kuat.
Mekanik unik seperti Style Eat, di mana kalian bisa memangsa musuh untuk mencuri kemampuan dan gaya bertarung mereka secara instan, memberikan variasi strategi yang beragam di setiap run. Ditambah lagi dengan balutan musik soundtrack bergenre punk rock yang energik, atmosfer permainan terasa selalu hidup dan mendorong kalian untuk terus mencoba sekali lagi setiap kali mengalami kegagalan.
Tentu saja, pertanyaannya adalah apakah kombinasi humor absurd dan formula roguelite ini mampu menjaga ketertarikan kalian dalam jangka panjang, atau justru cepat terasa membosankan setelah beberapa jam bermain?
Melalui artikel review ini, penulis akan membedah secara mendalam seluruh aspek Stupid Never Dies, mulai dari alur cerita, kedalaman mekanik permainan, kualitas presentasi visual dan audio, hingga kekurangan yang perlu kalian pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membelinya.
Simak review Stupid Never Dies berikut ini.
Cerita & Karakter

Cutscene Davy dengan Julia
Kisah dalam sebuah game sering kali menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa jauh kalian akan bertahan memainkannya. Dalam Stupid Never Dies, aspek naratif disajikan dengan cara yang sangat tidak biasa, namun berhasil memikat perhatian penulis sejak awal.
Game ini membawa kalian masuk ke dalam sebuah dunia fantasi yang sedang dilanda kekacauan akibat ambisi sang King of Monsters (KOM). Di tengah dominasi para monster kuat dan ganas, fokus cerita justru tertuju pada Davy, sosok zombi kelas bawah yang sering dianggap paling lemah dan sama sekali tidak diperhitungkan dalam hierarki dunia monster.
Motivasi yang menggerakkan alur cerita game ini berakar pada premis romansa yang sangat konyol sekaligus unik. Davy secara tidak sengaja jatuh cinta pada Julia, seorang gadis manusia yang terperangkap dalam kondisi beku di dalam lemari es. Demi membebaskan sang pujaan hati dan membuktikan bahwa rasa cintanya nyata, Davy harus memberanikan diri menjelajahi dungeon-dungeon mematikan yang dikuasai oleh para bawahan King of Monsters.
Penulis menyukai bagaimana motivasi yang sangat personal dan terkesan absurd ini dijadikan penggerak utama narasi, alih-alih menggunakan kiasan klasik tentang menyelamatkan kerajaan atau menyelamatkan dunia dari kiamat.

Sepanjang perjalanan menembus dungeon, kalian akan disuguhkan interaksi cerita yang sarat dengan humor konyol dan slapstick. Karakter-karakter penunjang yang kalian temui di area hub maupun di dalam dungeon memiliki kepribadian yang sangat eksentrik, mulai dari pedagang aneh yang menjual barang-barang tidak berguna hingga bos monster yang gemar melontarkan dialog provokatif namun menggelitik.
Penulis menilai gaya penulisan dialog dalam game ini sangat berhasil menjaga suasana tetap ringan dan menghibur, sehingga kalian tidak akan merasa jenuh meskipun harus menghadapi rintangan dungeon yang penuh tantangan.
Meskipun secara keseluruhan bertema komedi, Stupid Never Dies tetap berhasil menyisipkan momen-momen kecil yang menyentuh hati tentang kegigihan dan tekad pantang menyerah. Kegagalan demi kegagalan yang dialami Davy justru memperkuat daya tarik karakternya sebagai sosok underdog yang ingin kalian dukung hingga akhir.
Karakterisasi yang kuat tersebut membuat perjalanan kalian menyusuri setiap lantai dungeon terasa memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar arena untuk menghabisi musuh tanpa makna.
Gameplay yang Adiktif dan Bertempo Cepat

Jantung dari Stupid Never Dies terletak pada siklus gameplay yang adiktif dan penuh aksi bertempo cepat. Ketika penulis pertama kali memegang kendali dan menggerakkan karakter Davy, ada sebuah sensasi familiar yang langsung terasa di jemari. Feel pergerakan, responsivitas serangan, hingga cara karakter melakukan dash dan combo sangat mirip dengan game-game action hack-and-slash klasik di era kejayaan PlayStation 2. Sentuhan nostalgia ini bukanlah kebetulan belaka.
Setelah penulis telusuri lebih dalam, game ini memang diproduksi di bawah naungan produser kawakan Ryosuke Hara di studio GPTRACK50, anak perusahaan NetEase Games yang didirikan oleh Hiroyuki Kobayashi, sosok veteran yang pernah membidani waralaba legendaris seperti Devil May Cry. Tidak heran jika aura aksi ala PS2 yang intuitif, cepat, dan mengutamakan flow pertarungan terasa sangat kental ketika kalian memainkannya.
Sebagai sebuah game action RPG bertema roguelite, struktur dasarnya menuntut kalian untuk menjelajahi dungeon prosedural yang tata letaknya selalu berubah setiap kali memulai run baru.

Tugas kalian adalah membersihkan ruang demi ruang dari kepungan monster, mengumpulkan sumber daya, dan mengalahkan bos di lantai paling bawah. Keindahan dari formula ini terletak pada risiko dan imbalannya, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sarana untuk memperkuat diri.
Setiap kali Davy tewas di dalam dungeon, kalian akan terbangun kembali di area hub utama untuk melakukan peningkatan kemampuan secara permanen sebelum kembali terjun ke medan pertempuran.
Hal yang membuat sistem pertarungan Stupid Never Dies terasa sangat segar dan berbeda dari game sejenis adalah keberadaan dua mekanik utama yang amat unik, Body Hack dan Style Eat.

Mekanik Body Hack memungkinkan kalian untuk memodifikasi dan menukar anggota tubuh Davy dengan milik monster yang telah dikalahkan. Karena Davy adalah seorang zombi, ia tidak terikat pada anatomi manusia normal.
Kalian bisa memasangkan tangan monster es untuk memberikan efek serangan membekukan, atau mengganti kakinya dengan kaki monster bertubuh kekar untuk meningkatkan kecepatan lari serta daya hancur jump attack.
Kombinasi anggota tubuh ini tidak hanya mengubah atribut statistik dan daya tahan Davy, tetapi juga memberikan variasi gerakan bertarung yang bisa disesuaikan dengan gaya bermain kalian.
Sementara itu, mekanik Style Eat atau You Are What You Eat menjadi pendorong utama dinamika pertarungan di tengah aksi. Saat berhasil melumpuhkan musuh tertentu, kalian dapat memerintahkan Davy untuk memangsa mereka secara instan di medan tempur.
Tindakan ini memberikan dorongan daya tempur sementara dan memungkinkan kalian untuk mencuri jurus khusus, buff, atau gaya bertarung milik musuh tersebut secara langsung.
Fitur ini memaksa kalian untuk terus berpikir adaptif di tengah kepungan musuh. Kalian tidak hanya sekadar menekan tombol serangan secara membabi buta, tetapi juga harus memprioritaskan musuh mana yang harus dimangsa terlebih dahulu demi mendapatkan keunggulan taktis.
Sebelum memulai ekspedisi baru, kalian akan menghabiskan waktu di area hub yang berwujud sebuah mal terbengkalai. Di tempat inilah seluruh persiapan dilakukan, mulai dari membeli upgrade permanen, menempa peralatan baru, hingga berinteraksi dengan berbagai NPC eksentrik yang membuka fitur tambahan.
Transisi antara persiapan di hub dan aksi liar di dungeon menciptakan ritme permainan yang sangat pas. Kombinasi antara kontrol yang responsif, rasa nostalgia ala Devil May Cry, serta mekanik penyesuaian karakter yang mendalam memastikan bahwa setiap sesi bermain selalu terasa seru dan membuat kalian tidak pernah bosan untuk mencoba satu run lagi.
Perpaduan Visual Pop-Punk Eksentrik dengan Komik yang Kontras

Satu hal yang membuat Stupid Never Dies langsung mencuri perhatian sejak detik pertama kalian menyalakannya adalah identitas visualnya yang sangat berani dan berkarakter. Di saat banyak game action RPG modern berlomba-lomba mengejar grafis realistis yang kelam atau gaya anime yang pasaran, game ini justru memilih jalan yang sama sekali berbeda.
Penulis sangat mengapresiasi keberanian pengembang dalam mengusung estetika pop-punk yang eksentrik, dipadukan dengan sentuhan visual komik yang penuh warna kontras. Hasilnya adalah sebuah dunia game yang terasa liar, penuh energi, dan sangat menyegarkan untuk dipandang.
Desain visual dalam Stupid Never Dies tidak hanya berfungsi sebagai pemanis mata, tetapi juga memperkuat tema humor absurd yang diusungnya. Lingkungan dungeon yang kalian jelajahi tidak terasa dingin atau menakutkan, melainkan dipenuhi dengan grafiti neon, arsitektur yang janggal, dan elemen tata cahaya yang menyerupai panggung konser musik underground.
Karakter Davy sendiri dirancang dengan sangat apik; ekspresi wajahnya yang konyol, gerak-gerik tubuhnya yang kikuk saat melancarkan serangan, hingga perubahan bentuk fisiknya saat kalian mengaktifkan fitur Body Hack disajikan dengan animasi yang sangat halus.
Penulis kerap tertawa sendiri melihat betapa konyolnya penampilan Davy ketika ia memadukan lengan monster raksasa bertato dengan kaki mesin berukuran kerdil, namun tetap mampu bergerak dengan begitu lincah di tengah pertempuran.
Desain para musuh dan bos di dalam game ini juga patut mendapatkan acungan jempol. Kalian tidak akan hanya bertarung melawan zombi atau monster generik. Sebaliknya, kalian akan berhadapan dengan jajaran musuh yang memiliki desain sangat tidak biasa, mulai dari monster berpenampilan seperti anggota band rock gaek hingga bos besar dengan kostum flamboyan yang seolah keluar dari komik satir.

Setiap musuh memiliki siluet yang jelas dan animasi serangan yang mudah dibaca, sehingga meskipun layar pertempuran dipenuhi oleh efek visual yang ramai, kalian tetap dapat mempertahankan fokus dan merespons pergerakan lawan dengan presisi.
Sektor visual yang memukau ini makin sempurna berkat tata suara dan soundtrack yang luar biasa. Penulis bisa mengatakan bahwa album musik dalam game ini adalah salah satu elemen terbaik yang akan kalian nikmati sepanjang permainan.
Pilihan trek musik bergenre punk rock, alternative rock, dan pop-punk yang menggelegar mengiringi setiap langkah kalian menyusuri dungeon. Tempo musik yang cepat dan petikan gitar yang agresif secara otomatis memompa adrenalin kalian saat bertarung melawan gelombang musuh. Musik tidak sekadar menjadi latar belakang yang pasif, melainkan beradaptasi secara dinamis dengan intensitas pertempuran di layar.
Efek suara (sound effects) yang dihadirkan juga terasa sangat renyah dan memberikan umpan balik yang memuaskan pada setiap tebasan, hantaman, dan dentuman serangan kalian. Suara serangan Davy yang menghantam tubuh musuh, dentuman efek Style Eat saat memangsa lawan, hingga efek suara jenaka saat Davy terkena serangan bos terasa dipoles dengan sangat baik.
Kombinasi antara presentasi visual yang penuh warna, animasi karakter yang ekspresif, dan balutan musik pop-punk yang membakar semangat ini berhasil menciptakan atmosfer unik yang akan terus melekat dalam ingatan kalian bahkan setelah permainan dimatikan.
Informasi Ketersediaan

Stupid Never Dies bisa kalian mainkan di platform PC melalui Steam dan konsol Playstation 5. Versi PC seperti yang Penulis mainkan saat ini sudah dijual dengan harga Rp579.000 untuk Glorious Idiot Edition dan bisa langsung dimainkan hari ini. Sedangkan untuk varian standar dijual dengan harga Rp509.000 dan baru bisa dimainkan pada 22 Oktober 2026.
Kesimpulan
Review Summary
Game ini menawarkan angin segar yang menyenangkan di tengah maraknya game action RPG modern yang cenderung kelam dan berat. Bagi kalian yang tumbuh di era keemasan PlayStation 2, sensasi pertarungan yang responsif dan mengingatkan kita pada fondasi game ala Devil May Cry pasti akan memicu nostalgia yang kuat. Ditambah lagi dengan mekanik Body Hack dan Style Eat yang inovatif, setiap kali kalian terjun ke dalam dungeon, pengalaman bertarung yang dihadirkan selalu terasa dinamis dan tidak membosankan. Meskipun game ini masih memiliki beberapa kekurangan kecil, seperti variasi lingkungan dungeon yang agak repetitif dan lonjakan tingkat kesulitan pada pertarungan bos, hal tersebut tidak mengurangi keseruan bertarung secara keseluruhan. Stupid Never Dies menjadi paket komplit yang berhasil menyeimbangkan antara kontrol yang solid, gameplay adiktif, dan sajian musik yang membakar semangat. Kami merekomendasikan game ini bagi kalian yang ingin mencari hiburan seru dengan lelucon yang segar.
Criteria
- Sensasi hack-and-slash yang memberikan alur pertarungan yang cepat dan memuaskan
- Kebebasan mengganti anggota tubuh dan kemampuan memakan musuh untuk mencuri skill secara langsung menghadirkan variasi strategi yang segar di setiap run
- Estetika visual yang penuh warna serta dentuman soundtrack punk rock yang energik berhasil membangun atmosfer permainan yang hidup dan tidak membosankan
- Premis cerita yang konyol dan penulisan dialog yang ringan membuat perjalanan mengejar cinta Davy terasa menyenangkan dari awal hingga akhir
- Tata letak dan variasi lingkungan dungeon agak monoton
- Perbedaan tingkat kesulitan musuh biasa dan bos cukup timpang
- Efek visual serangan ledakan dan jumlah musuh membuat pergerakan karakter kalian sedikit sulit dipantau


Membalas