Mencari mouse gaming ultralight terbaik untuk meningkatkan performa kompetitif Anda? ASUS ROG Harpe II Ace hadir sebagai jawaban atas kebutuhan para gamers dan atlet esports yang mendambakan kecepatan serta akurasi tinggi.
Sebagai penerus generasi platform gaming premium, mouse ambidextrous mengandalkan sensor optik AimPoint Pro 42.000 DPI hingga dukungan polling rate bawaan mencapai 8000 Hz.
Apakah kombinasi bobot super ringan, performa sensor mutakhir, dan fleksibilitas konektivitasnya sebanding dengan harga premium yang ditawarkan?
Simak review ROG Harpe II Ace lengkap ini untuk membedah tuntas kelebihan, kekurangan, serta performa nyatanya saat diajak bertempur di game competitive.
Unboxing ROG Harpe II Ace


Berbeda dari line-up mouse ROG yang biasanya akan terbuka seperti sebuah cangkang, membuka kardus dari ROG Harpe II Ace terasa seperti membuka box smartphone.
Sepertinya ASUS ROG sangat membanggakan kolaborasi pembuatan mouse ini, terbukti dengan terpampangnya logo lima tim di bagian kanan box, ada NRG, Vitality, JDG, RA, dan Nova.

Berikut adalah isi di dalam paket penjualan ROG Harpe II Ace:
- 1 x P723 ROG Harpe II Ace gaming mouse
- 1 x Wireless Receiver
- 1 x Wireless Receiver Extender
- 1 x ROG Paracord
- 1 set x Mouse grip tape (4pcs)
- 1 set x 100% PTFE Mouse Feet (2 semi-circle, 1 for sensor)
- 1 x Thank you card + Hotkey QSG
- 1 x Warranty Card
- 1 x Quick Start Guide
- 1 x ROG logo sticker
Desain Minimalis dan Ergonomis untuk Semua Kalangan

Ketika pertama kali melihat ROG Harpe II Ace, impresi utama yang muncul pada benak Penulis adalah sama seperti mouse ROG lainnya. Tampilan luarnya yang tampak minimalis, bersih, bebas dari ornamen berlebihan, dan tidak ada tekstur cangkang telur seperti biasanya.
ROG Harpe II Ace mengusung bentuk Ambidextrous (simetris untuk tangan kanan) yang telah disempurnakan dari generasi sebelumnya. ASUS melakukan penyesuaian mikro pada ketinggian area punggung (hump) dan lekuk samping yang terlihat lebih ramping. Perubahan ini membuat dimensi bodi terasa lebih universal, sehingga pengguna dengan gaya genggaman claw grip maupun fingertip grip merasakan genggaman tangan yang lebih mantap.
Profil bodi yang ramping dan panjang memastikan distribusi tekanan telapak tangan tersebar secara merata. Hal ini sangat krusial untuk mengurangi pegal pada otot pergelangan tangan saat digunakan dalam durasi yang panjang.
Selain itu, ketersediaan varian warna seperti Black, Moonlight White, dan Lava Red memberikan fleksibilitas estetika bagi pengguna untuk mencocokkannya dengan selera personal mereka.
Material Bio-Based Nylon dan Tekstur Matte
Salah satu daya tarik terbesar dari sisi rekayasa fisik mouse ini adalah penggunaan material bio-based nylon. Penggunaan bahan inovatif ramah lingkungan ini menjadi kunci utama bagaimana ASUS berhasil memangkas bobot total bodi hingga menyentuh angka fantastis, hingga 47 gram saja (tanpa dongle).
Luar biasanya, pencapaian ultralight ini dieksekusi tanpa harus melubangi cangkang luar (honeycomb design), sehingga integritas struktural mouse tetap solid, kokoh, dan yang paling Penulis suka bebas dari risiko kemasukan debu.
Dari segi visual dan sentuhan taktil, material bodi ini dilapisi oleh tekstur matte dengan butiran yang sangat halus. Finis premium ini memberikan dua keuntungan besar sekaligus:
- Fungsional: Meningkatkan daya cengkram tangan (grip) secara alami tanpa membutuhkan grip tape tambahan, sekaligus meminimalkan bercak minyak atau bekas sidik jari.
- Estetika: Permukaan matte ini memiliki sifat yang sedikit licin namun tidak panas sehingga tangan tidak mudah berkeringat ketika pemakaian jangka panjang.
RGB pada ROG Harpe II Ace hanya terdapat pada scroll wheelnya saja, logo ROG di bagian belakang hanya sebuah pemanis. Tanpa adanya lampu RGB, logo tersebut menyatu dengan sangat anggun ke dalam warna dasar bodi.
Pengalaman Bermain via Kabel dan Bluetooth

ROG Harpe II Ace dibekali dengan konektivitas tri-mode yang sangat fleksibel. Namun, untuk produk yang Penulis terima dongle tersebut menghilang. lewat mode kabel (wired) dan Bluetooth 5.1, mouse ini menyajikan dua karakteristik performa yang berbeda namun tetap andal untuk skenario gaming yang tepat.
Bagi para pemain yang mengejar performa kompetitif tanpa kompromi, beralih ke mode kabel menggunakan kabel ROG Paracord bawaan adalah sebuah berkah tersembunyi. Begitu kabel USB Type-C ditancapkan, ROG Harpe II Ace bertransformasi menjadi monster performa berkat dukungan teknologi polling rate bawaan yang sangat masif.
Melalui koneksi kabel, Penulis bisa menikmati respons instan hingga 8000 Hz tanpa perlu USB Polling Rate Booster. Hal ini sepertinya sudah dicoba oleh ROG pada mouse Keris II Ace yang secara default bisa berjalan dengan heartz tertinggi tanpa dongle tersebut.
Penulis sendiri hanya sekali mencoba bermain CS2 dan Valorant dengan 8000 Hz, namun tidak menemukan keuntungan yang signifikan dari 4000 Hz. Ketika dikombinasikan dengan sensor optik ROG AimPoint Pro 42.000 DPI yang memiliki akselerasi 50G dan kecepatan 750 IPS, akurasi pelacakan (tracking) menjadi presisi.
Saat digunakan bermain game First-Person Shooter (FPS) taktis yang menuntut refleks sepersekian detik seperti Valorant atau Counter-Strike 2, akurasi ini sangat terasa. Gerakan mikro saat melakukan micro-adjustment atau flick shot cepat diterjemahkan ke layar tanpa ada interpolasi atau lompatan piksel yang mengganggu.
Menariknya, bobot mouse yang hanya 48 gram berpadu sempurna dengan ROG Paracord yang sangat lentur dan ringan. Kabel ini meminimalkan hambatan seretan (cable drag), sehingga sensasi mengayunkan mouse hampir mendekati pengalaman menggunakan mouse nirkabel.
Kehadiran ROG Optical Micro Switches juga semakin menambah kenyaman karena setiap klik kiri dan kanan terasa instan dan taktil tanpa risiko salah klik (double-click), berkat kecepatan aktuasi cahaya yang bebas dari debounce delay.
Meskipun tanpa dongle, Penulis tetap bisa merasakan meja yang bersih dari untaian kabel atau saat bekerja di kantor menggunakan laptop, dengan mode Bluetooth 5.1 menjadi penyelamat. Mengaktifkan Bluetooth pada ROG Harpe II Ace sangat mudah berkat tombol fisik di bagian bawah mouse, dan ia memiliki manajemen daya yang sangat efisien.
Penulis memang tidak membandingkan dengan mode dongle, tapi dari pengalaman pemakaian selama kurang lebih enam hari, mouse ini belum minta isi bensin.
Secara teknis, koneksi Bluetooth membatasi polling rate di 1000 Hz demi menghemat daya baterai. Meskipun tidak sekencang mode kabel, konektivitas Bluetooth pada mouse ini tergolong sangat stabil untuk standar nirkabel universal. Protokol Bluetooth 5.1 bawaannya memiliki manajemen interferensi sinyal yang lebih baik, sehingga meminimalkan risiko putus koneksi di tengah permainan.
Skenario gaming terbaik untuk mode Bluetooth ini adalah game-game kasual, Role-Playing Game (RPG) dunia terbuka seperti Genshin Impact atau The Witcher 3, serta game strategi seperti Dota 2 atau Age of Empires. Pada genre-genre ini, latensi ultra-rendah dan 8000 Hz tidak terlalu krusial.
Apabila tetap ingin bermain game bergenre FPS, sebaiknya bermain mode campaign pada seri Call of Duty, Far Cry, Battlefield, dan lainnya. Karena jika bermain competitive, delay pada mode bluetooth sangat terasa dan mengganggu.
Keandalan sensor AimPoint Pro dalam membaca pergerakan tangan di atas berbagai permukaan (bahkan di atas permukaan meja tanpa mousepad) tetap terjaga dengan baik, memberikan kenyamanan bermain namun tetap presisi.
Kehilangan dongle 2.4 GHz memang memangkas satu opsi mobilitas tinggi, tetapi ROG Harpe II Ace membuktikan bahwa arsitektur teknisnya dirancang untuk segala situasi. Mode kabel memberikan performa mentah kelas turnamen yang tidak tertandingi untuk game kompetitif, sementara Bluetooth menawarkan kepraktisan tingkat tinggi untuk sesi gaming casual yang santai.
Informasi Ketersediaan
ROG Harpe II Ace sudah tersedia untuk pasar Indonesia dan bisa dibeli secara daring ataupun luring di ROG Store. Mouse ini dibanderol dengan harga Rp2.599.000.
Review Summary
Secara keseluruhan, arsitektur desain ROG Harpe II Ace adalah perpaduan sempurna antara tuntutan performa ekstrem dunia esports dan keindahan visual modern yang bersih. ASUS berhasil membuktikan bahwa sebuah alat kerja dan bermain performa tinggi bisa tampil dalam balutan desain yang menawan, berkelas, dan ergonomis. Bagi Penulis yang sudah menggunakan peripheral full wireless, kehilangan dongle memang sesuatu hal yang cukup mengganggu. Tapi seiring berjalannya waktu dan sedikit adaptasi pemakaian mouse dengan kabel atau bluetooth, semua menjadi baik-baik saja malah terasa seperti kembali ke zaman kecil dulu. Untuk sensor, switch, dan ketahanan baterai dengan koneksi bluetooth dari mouse ini Penulis tidak perlu menjelaskan panjang lebar, pokoknya sesuai dengan harganya.
Criteria
- Dukungan polling rate tertinggi tanpa perangkat tambahan
- Bobot yang sangat ringan di 48 gram
- Material mouse yang ramah lingkungan
- Pengaturan mouse lebih fleksibel dengan kehadiran Gear link berbasis web
- Warna putih mudah kotor


Bales ke