Setelah kesuksesan Troublemaker pertama, Gamecom Team mencoba kembali menarik perhatian gamer Indonesia dengan sekuelnya, Troublemaker 2: Beyond Dream. Dalam sesi media preview yang Penulis mainkan selama kurang lebih dua jam, terlihat jelas bahwa mereka ingin membawa seri ini ke level yang lebih tinggi, dengan pendekatan cerita yang lebih matang, eksplorasi tema yang lebih berani, dan beberapa penyempurnaan teknis — meski belum semuanya berhasil dieksekusi dengan sempurna.
Dalam kesempatan ini, Penulis bermain Troublemaker 2: Beyond Dream pada perangkat Axioo Pongo 775. Meskipun menggunakan laptop, game ini bisa berjalan stabil di 60 fps dengan setting grafis ultra, resolusi 2K atau QHD (2560×1440), dan tanpa upscalling apapun.
Bagi yang gampang terkena efek dari motion sickness, Penulis menyarankan untuk mematikan fitur Motion Blur. Karena ketika kamera diputar terasa seperti menaiki wahana komedi putar yang bergerak dengan cepat.
Preview ini tersedia tiga mode permainan dengan dua karakter yang bisa dimainkan: Budi dan Jordan. Keduanya muncul sebagai poros utama narasi, dengan alur cerita penuh dari awal game. Dalam hal penulisan, saya melihat peningkatan signifikan dari game pertama.
Narasi terasa lebih fokus dan dewasa, menyentuh berbagai isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, seperti tekanan lingkungan, dinamika kehidupan bermasyarakat, dan sistem sosial yang penuh tuntutan. Menariknya, pesan-pesan ini tidak hanya hadir di cerita utama, tetapi juga terselip di berbagai mini-game, yang membuat penyampaian temanya terasa lebih halus dan menyatu dengan gameplay.
Sayangnya, dari sisi gameplay, belum ada perbedaan signifikan antara Budi dan Jordan. Gaya bertarung keduanya masih terasa serupa, baik dari segi animasi maupun efek serangan. Ini membuat switching antar karakter terasa kurang berdampak secara mekanis.
Penulis berharap di versi final nanti, akan ada penyesuaian atau penambahan gaya bertarung yang membuat masing-masing karakter terasa unik.
Secara visual, Beyond Dream tampil lebih rapi dari pendahulunya. Desain lingkungan sekolah kini lebih hidup dan terasa penuh detail. NPC tampak lebih ekspresif, dan dunia game tidak terasa kosong. Namun begitu, user interface sudah cukup baik karena tidak ada permasalahan apapun — terutama saat menavigasi menu dan transisi antar tampilan yang sudah sesuai dengan gerakan gamepad.

Satu hal yang cukup mengganggu dalam sesi preview ini adalah kemunculan bug teknis. Saat membuka menu pause, Penulis tidak bisa kembali ke gameplay karena game tidak merespon ketika tombol B untuk kembali ditekan.
Selain itu, setelah memenangkan pertarungan 1v1, game sempat mengalami stuck hingga memaksa saya untuk restart. Ini jelas mengganggu pengalaman bermain, meski Penulis sadar bahwa ini masih versi awal yang belum final.
Selain bug, Penulis juga merasa sedikit mengganjal ketika karakter berjalan terasa seperti slow motion, atau terlalu lambat.
Meski begitu, Troublemaker 2 tetap menunjukkan potensi besar. Pendekatan cerita yang lebih dalam, keberanian membawa isu sosial ke dalam narasi game, serta atmosfer yang lebih kaya menjadikannya sequel yang menjanjikan.
Penulis berharap jika pada versi full nanti tidak ada bug atau setidaknya berkurang, dan memberikan perbedaan animasi pertarungan pada kedua karakter utama, Beyond Dream bisa jadi salah satu pencapaian terbaik dalam dunia game lokal. Sebagai penikmat game pertama, Penulis merasa Troublemaker 2 adalah langkah yang tepat ke arah yang lebih ambisius.
Penulis: Ahmad Fajar


Bales ke