Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong pengembang game Indonesia memperluas jangkauan ke pasar internasional melalui partisipasi dalam Gamescom Asia x Thailand Game Show 2026.
Berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand, ajang ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi industri game nasional kepada pelaku industri global.
Melalui program Creative by Indonesia, Indonesia menghadirkan Indonesia Pavilion — Game From Indonesia yang menampilkan karya, talenta, dan perkembangan ekosistem game Tanah Air. Paviliun tersebut menjadi ruang bagi enam studio game Indonesia dan dua media gaming untuk memperluas jaringan profesional, menjajaki peluang bisnis, serta memperkenalkan intellectual property (IP) lokal.
Direktur Game Kemenekraf, Luat Sihombing, menjelaskan bahwa partisipasi dalam pameran internasional merupakan langkah untuk membuka akses pasar dan memperluas peluang ekspor game nasional. Ia menekankan pentingnya kualitas produk, pemahaman karakteristik pasar, serta unique selling point (USP) yang membedakan game Indonesia dari kompetitor global.
Selain itu, lokalisasi bahasa dan konteks budaya juga menjadi aspek penting agar game lebih mudah diterima pemain dari berbagai negara. Pengembang diharapkan mampu membangun IP berkelanjutan dengan perencanaan bisnis jangka panjang.
Kreator Konten dan Media Perkuat Promosi Game Lokal

Selain pengembang, media dan kreator konten turut berperan dalam memperkenalkan game Indonesia kepada audiens internasional. Tiga kreator konten, yakni Rizki Abdallah, Reshiane Carnella Rashid, dan Muhammad Zidny Attalathariq Syah, berpartisipasi melalui pemberitaan, wawancara, livestreaming, hingga konten first impression selama pameran.
Direktur Konten Digital Kemenekraf, Yuana Rochma Astuti, menilai kreator konten memiliki peran strategis dalam membangun komunitas dan memperluas jangkauan promosi game lokal.
“Kesempatan untuk mendapatkan exposure dan pengalaman internasional seperti ini tentunya bisa membuka jejaring dan peluang baru bagi kreator Indonesia,” ujar Yuana.
Menurutnya, kolaborasi antara developer dan kreator konten dapat menjadi kekuatan untuk membawa IP Indonesia ke pasar internasional. Developer memiliki produk dan IP, sementara kreator konten mempunyai kemampuan membangun audiens serta komunitas.
Dari perspektif media, Rizki Abdallah menyoroti pentingnya memperluas jaringan internasional dan menggunakan bahasa Inggris agar pemberitaan mengenai industri game Indonesia dapat menjangkau pembaca global. Ia juga menekankan bahwa media perlu menjaga objektivitas dalam mengulas game lokal melalui kritik yang spesifik dan konstruktif.
Sementara itu, Reshiane Carnella Rashid atau Eci menilai komunitas menjadi salah satu faktor penting dalam mempromosikan game Indonesia. Menurutnya, pengembang perlu membangun komunikasi secara konsisten agar komunitas tetap aktif dan antusias mendukung produk mereka.
Publishing dan Marketing Jadi Tantangan Pengembang
Muhammad Zidny Attalathariq Syah melihat Gamescom Asia x Thailand Game Show memiliki peluang besar dalam mempertemukan pengembang dengan publisher dan investor. Namun, ia menilai kemampuan teknis pengembang Indonesia perlu diimbangi dengan kesiapan strategi bisnis, penerbitan, dan pemasaran.
“Beberapa developer Indonesia sebenarnya sudah jago membuat game. Produknya bagus, tetapi terkadang mereka belum tahu bagaimana cara menjualnya. Tantangannya masih ada pada perilisan (publishing) dan cara memasarkannya (marketing),” jelas Zidny.
Melalui Creative by Indonesia, Kemenekraf berharap partisipasi dalam ajang internasional dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pengembang, media, kreator konten, dan komunitas.
Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan eksposur game lokal, tetapi juga membuka peluang kerja sama bisnis yang berkelanjutan serta memperkuat daya saing industri game Indonesia di pasar global.


Membalas