Review ROG Pelta: Estetika Gaming dengan Performa Audio yang “Bedah” Frekuensi

Terobosan baru ASUS ROG untuk lini headphone mereka, ROG Pelta.

Review Peripheral
Asus Rog Pelta Gamedaim Review 16
Komentar

Dalam ekosistem gaming gear kelas atas, nama Republic of Gamers (ROG) sering kali diasosiasikan dengan performa tanpa kompromi. Namun, melalui lini terbaru mereka, ROG Pelta, ASUS tampaknya ingin mencoba pendekatan yang sedikit berbeda: menggabungkan estetika lifestyle yang bersih dengan ketajaman teknis yang biasanya hanya ditemukan pada headset audiophile.

Hadir dengan balutan warna putih yang elegan, ROG Pelta bukan sekadar pemanis meja gaming. Setelah melalui serangkaian pengujian ketat, mulai dari mendengarkan rekaman master high-fidelity hingga terjun ke medan perang kompetitif Counter-Strike 2. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai si “minimalis nan berisik” ini.

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 08
Box depan
Asus Rog Pelta Gamedaim Review 09
Box belakang
Asus Rog Pelta Gamedaim Review 07
Isi paket penjualan

Desain dan Konstruksi: Estetika vs Ergonomi

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 15
Review rog pelta: estetika gaming dengan performa audio yang “bedah” frekuensi 11

Hal pertama yang mencuri perhatian Penulis tentu saja adalah warna dan desainnya. Varian putih pada ROG Pelta memberikan kesan futuristik sekaligus minimalis, sebuah penyegaran di tengah dominasi warna hitam yang membosankan.

Ada sedikit kesan gaming karena terdapat logo mata ROG sekaligus lampu RGB di bagian luar earcup kanan dan kiri. Jangan khawatir karena hal tersebut sama sekali tidak mengganggu. Namun, di balik kecantikannya, terdapat beberapa catatan ergonomi yang cukup unik dan krusial untuk diperhatikan.

Kontruksi dari ROG Pelta tidak terasa murah sama sekali meskipun full menggunakan material plastik. Bobot dari headset ini ada di 309 gram, yang ketika menggunakannya cukup lama Penulis tidak terasa berat.

Tantangan Fixed Handle

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 02
Review rog pelta: estetika gaming dengan performa audio yang “bedah” frekuensi 12

Satu hal yang cukup berani (dan mungkin kontroversial) dari desain ROG Pelta adalah handle atau headband utamanya yang tidak bisa diatur panjang-pendeknya secara manual. Pemilihan fixed handle mungkin karena ROG cukup percaya diri kalau headset ini akan cocok dengan setiap orang. Tentu saja karena fixed handle, ROG Pelta tidak bisa ditekuk hanya bagian earcup saja yang bisa diputar.

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 01
Review rog pelta: estetika gaming dengan performa audio yang “bedah” frekuensi 13

Dalam penggunaan nyata, headset ini terasa sedikit “menggantung” di kepala Penulis. Beruntung, ASUS menyertakan suspension band (pita elastis) di bawah rangka utama. Suspension band pada ROG Pelta memiliki dua adjustment dan juga bisa dilepas jika terasa tidak nyaman.

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 13
Review rog pelta: estetika gaming dengan performa audio yang “bedah” frekuensi 14

Pita inilah yang menjadi pahlawan dalam menjaga stabilitas. Ia mendistribusikan beban dengan cukup baik sehingga headset tidak mudah bergeser, meski sensasi “mengambang” tersebut tetap menyisakan ruang kosong antara rangka atas dan puncak kepala.

Material Earcup dan Isolasi Suara

ROG Pelta menggunakan bahan mesh untuk bagian earcup-nya. Dari sisi fungsionalitas, headset ini memiliki kemampuan isolasi yang cukup baik. Kemampuan menekan noise ini juga dibantu oleh kehadiran tiga lubang udara, dua di kanan dan satu di kiri.

Meskipun suara di sekitar tidak hilang sepenuhnya, headset ini mampu meredam gangguan bising dari luar dengan sangat efektif, menciptakan “gelembung” privasi saat Penulis sedang fokus clutch untuk memenangkan ronde di CS2, atau bermain mode Escalation di Battlefield 6.

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 10
Ketika bermain battlefield 6

Penulis sendiri juga lebih menyukai peredaman suara seperti ini karena bisa tetap sadar dengan keadaan di lingkungan sekitar.

Namun, material mesh ini menyimpan konsekuensi termal. Dalam pengujian penggunaan intens selama kurang lebih 2,5 jam di ruangan tanpa pendingin (AC), baik untuk sesi gaming maraton maupun mendengarkan musik, telinga Penulis bagian belakang mulai terasa panas. Untuk sesi gaming intens di ruangan ber-AC selama 2 jam, Penulis tidak merasakan adanya panas seperti ketika AC dimatikan.

Masalah tersebut merupakan hal biasa pada headset ketika digunakan cukup intens, namun mungkin akan menjadi catatan bagi kamu yang berada di lingkungan tanpa pendingin ruangan atau sering melakukan sesi bermain yang sangat panjang.

Performa Audio: Ketajaman Audiophile di Jalur Gaming

Asus Rog Pelta Gamedaim Review 05
Tombol dan port headset

Sering kali, headset gaming mengorbankan kejernihan demi bass yang meledak-ledak. ROG Pelta menolak mengikuti arus tersebut. Untuk membuktikannya, Penulis menggunakan dua lagu “penyiksa” driver audio yang cukup sering digunakan oleh Purist.

Penulis melakukan pengujian musik menggunakan aplikasi Youtube Music Premium dengan pengaturan headset standar. Tingkat volume suara headset ketika pengujian dengan musik adalah 40, sedangkan ketika bermain game di 60.

Uji Transparansi: Steely Dan – “Aja”

Lagu legendaris dari Steely Dan ini adalah standar emas untuk menguji detail mikro. Melalui ROG Pelta, setiap lapisan instrumen terdengar seperti dibedah satu per satu.

  • Treble: Suara simbal dan perkusi pada musik terdengar sangat jernih tanpa memberikan kesan menyakitkan telinga (harsh).
  • Separasi: Yang paling mengesankan adalah kemampuan driver-nya dalam memisahkan vokal dengan detail mikro di latar belakang. Tidak ada instrumen yang terasa “tumpang tindih”; masing-masing memiliki ruangnya sendiri dalam panggung suara (soundstage).

Uji Kontrol Low-End: James Blake – “Limit to Your Love”

Lagu ini dikenal memiliki sub-bass yang sangat rendah dan agresif yang sering kali membuat driver murah menjadi “berlumpur” (muddy). Pada ROG Pelta, dentuman bass tersebut terdengar sangat bulat dan terkontrol. Hebatnya, frekuensi rendah yang kuat ini sama sekali tidak “bocor” atau menutupi vokal James Blake yang lembut. Ini membuktikan bahwa tuning pada Pelta sangat presisi, bisa menjadi sangat bertenaga di bawah, namun tetap menjaga kebersihan di frekuensi menengah.

Dominasi di Medan Perang Dust 2 dan Mirage di CS2

Jika di sektor musik ROG Pelta tampil elegan, di sektor gaming ia berubah menjadi alat navigasi yang presisi. Penulis mengujinya pada salah satu game paling menuntut secara audio: Counter-Strike 2 (CS2).

Spatial Awareness yang Akurat

Dalam CS2, suara adalah informasi yang sama berharganya dengan penglihatan. ROG Pelta mampu menerjemahkan koordinat suara dengan akurasi yang sangat baik.

  • Identifikasi Gerakan: Penulis bisa membedakan dengan jelas apakah musuh di balik tembok sedang berlari di lorong atas, atau baru saja mendarat setelah melompat dan berlari di lorong bawah.
  • Directional Audio: Menentukan arah datangnya musuh, apakah dari arah Market atau Mid menuju Connector, terasa sangat natural. Imaging yang dihasilkan membuat Penulis tidak perlu menebak-nebak, cukup mengandalkan insting pendengaran untuk melakukan pre-fire.

Ketajaman ini memberikan keuntungan kompetitif yang nyata. Suara langkah kaki yang biasanya terkubur di bawah suara ledakan granat atau tembakan, tetap bisa tertangkap oleh telinga berkat separasi frekuensi yang baik tadi.

Baterai Super Awet Tapi Charging Lama

ROG Pelta hadir dengan baterai berkapasitas 900 mAh dan sudah Penulis pakai kurang lebih 4 – 5 jam, baik untuk bermain game atau mendengarkan musik sambil menulis artikel ini dengan lampu RGB yang menyala.

Charging time dari 0 sampai 50% membutuhkan waktu 30 – 40 menit, dan untuk mencapai kapasitas penuh membutuhkan waktu dua jam. Dengan durasi dan skenario pemakaian seperti Penulis, baterai headset ini berkurang 21% dan masih termasuk irit.

Harga dan ketersediaan

ROG Pelta hadir dalam dua warna, hitam dan putih, yang saat ini sudah tersedia secara resmi di pasar Indonesia dengan harga di toko daring official ASUS atau ROG Indonesia adalah Rp2.099.000.

Review Summary

Jika kamu adalah tipe pemain yang mengutamakan kualitas suara murni dan akurasi posisi di atas segalanya, ROG Pelta adalah investasi yang solid. Namun, jika kamu sangat sensitif terhadap panas di area telinga atau memiliki preferensi khusus terhadap pengaturan manual pada headband, kamu mungkin perlu mempertimbangkan penggunaan durasi pendek atau mencari alternatif earpad di masa depan. ROG Pelta adalah standar untuk sebuah headset gaming kelas high-end. Di satu sisi, ia menawarkan performa audio yang sangat bersih, transparan, dan sangat mumpuni untuk kebutuhan kompetitif maupun penikmat audio serius. Di sisi lain, ada kompromi pada sisi ergonomi desain fixed handle dan manajemen suhu pada earcup mesh-nya. Semua pengujian yang Penulis lakukan menggunakan koneksi 2.4 GHz karena koneksi bluetooth masih ada delay yang terasa ketika bermain game. Selain itu, Penulis juga tidak menggunakan Armoury Crate, jadi performa audio-nya memang sebaik itu tanpa perlu tuning tambahan.

Criteria

90
Design
80
Build Quality
90
Sound Quality
90
Connectivity
80
Battery
70
Price

Follow Gamedaim — everywhere

Stay updated wherever you scroll.

Lanjut baca

Loading Title Game Project Motor Racing

Game yang frustratingly close to being genuinely good, tetapi dalam kondisi launch-nya, kekurangan-nya jauh mengalahkan kelebihannya.

Baca selengkapnya