Produser Yongha Kim telah mengungkapkan bahwa tidak ada pemain yang mau menghabiskan uang untuk gambar hasil buatan AI.
Informasi ini dipublikasikan oleh GameMeca (via Automaton). Jika kalian tertarik dengan kondisi di industri game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.
Yongha Kim: Tidak Ada Pemain yang Mau Habiskan Uang untuk Gambar Buatan AI
19 Agustus 2025 – Dalam kuliah berjudul “Developing Bishojo Games in the Age of AI” (via GameMeca), produser Blue Archive, Yongha Kim, membahas bagaimana timnya mengimplementasikan teknologi AI dalam lingkungan pengembangan mereka.
Di saat yang sama, Kim menyatakan pandangan negatifnya terhadap penggunaan karya seni dan karakter yang dihasilkan oleh AI.
“Pemain yang menyukai game berorientasi karakter tidak menyukai konten yang dihasilkan AI. Bahkan saya sendiri sangat enggan menghabiskan uang untuk gambar yang dihasilkan hanya dengan sekali klik,” ungkap Kim seperti yang diterjemahkan oleh Automaton.
Menurut Kim, teknologi AI masih berada pada tahap di mana sulit untuk memanfaatkannya secara langsung untuk menghasilkan konten. Sebagai contoh, Kim menceritakan bagaimana ia mencoba merancang level menggunakan AI dengan hasil yang kurang memuaskan.
Kim juga meminta AI untuk memainkan Sokoban, sebuah game teka-teki Jepang, tetapi model AI terbaru yang lebih canggih pun sulit menyelesaikannya ketika tingkat kesulitannya sedikit ditingkatkan.
“Jika AI tidak bisa memecahkan teka-teki, membuatnya menjadi lebih sulit lagi,” ujar Kim.
Setelah meninjau banyak makalah penelitian tentang topik ini, Kim mencoba menggunakan AI untuk motion capture dan rigging. Namun, rig AI memiliki tulang yang terpasang secara tidak normal sehingga karakter tidak dapat bergerak.
“Saya mencoba mengerjakannya selama satu atau dua bulan, tetapi saya menyerah,” kata Kim.
Kim juga mencatat bahwa Nexon memiliki alat komunikasi AI yang dikembangkan sendiri dan mirip seperti chatbot. Alat ini akan mengatur jadwal liburan, merangkum rapat, dan menyediakan layanan penerjemahan.
Meskipun tidak secara langsung memengaruhi pengembangan itu sendiri, alat tersebut membantu mengatur tim dan mengurangi tugas berulang yang muncul di lingkungan tempat banyak orang bekerja bersama.
Mengenai penggunaan AI yang tercermin dalam sebuah game, Kim mengatakan bahwa tim Blue Archive menggunakan AI untuk pengambilan gambar animasi “zoom-in” yang dilihat oleh pemain saat mendapatkan karakter baru.
Hal ini telah sangat meringankan beban timnya, mengingat mengubah tugas yang biasanya memakan waktu dua hari bisa menjadi 30 menit.
Meskipun Kim berpendapat bahwa mengganti manusia dengan AI tidaklah mungkin, ia menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pengembang manusia dan membantu meminimalkan pekerjaan yang repetitif dan memakan waktu.
“Kita perlu melihat hal ini dari perspektif bagaimana meningkatkan kenyamanan para pengembang. […] Saya yakin bahwa peran insinyur machine learning dan seniman teknis akan semakin penting dalam pengembangan game di masa mendatang,” tutup Kim.


Membalas