Sutradara “Soulframe” Liang telah mengungkapkan bahwa para pemain menyukai game-game Tiongkok bukan karena dari mana dibuatnya, tetapi karena kualitasnya bagus.
Informasi ini diungkapkan oleh Liang saat diwawancarai Inverse. Jika kalian tertarik dengan kondisi di industri game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.
“Soulframe” Liang: Gamer Suka Game-game Tiongkok Karena Kualitasnya Bagus, Bukan Karena dari Mana Dibuatnya
12 Agustus 2025 – Berbicara dengan Inverse, sutradara “Soulframe” Liang ditanya apakah ia merasa tertekan dengan beberapa game single-player Tiongkok yang rilis selama beberapa tahun terakhir dan meraih kesuksesan global.
“Ini tren besar, semakin banyak studio Tiongkok yang beralih dari game mobile atau online ke game standalone AAA besar, yang sebelumnya tidak banyak kami lakukan,” jawab Liang.
“Pertama, ini adalah hasil dari pertumbuhan pasar, karena saat ini Tiongkok telah menjadi pasar tunggal terbesar untuk game standalone di Steam.”
Liang melanjutkan, “Tapi ada hal lain, karena jika kami membuat game AAA atau game berkualitas tinggi, orang-orang akan merasa bangga. Kami semua dulu bermain game Barat atau Jepang, jadi jika ada lebih banyak game Tiongkok dengan budayanya sendiri, tentu orang-orang akan merasa lebih familiar.”
“Kita punya Samurai dari Jepang, Knight dari Barat, atau bahkan Jedi Knight dan semuanya. Tapi sekarang kita punya kesempatan untuk berperan sebagai master Kung Fu atau ‘xiake’, seperti yang sudah kubilang. Atau Monkey King yang sudah dikenal luas dalam budaya kita.”
Liang melanjutkan, “Ini sangat menggembirakan baik sebagai pengembang maupun gamer, tapi saya juga ingin mengatakan bahwa hanya mengandalkan harga diri tidak membuat game kamu lebih baik atau bagus di pasaran.”
“Yang terpenting adalah kualitas gamenya. Orang-orang menyukai game Tiongkok yang sedang naik daun bukan karena game-game itu hanya buatan Tiongkok, tapi karena bagus. Jadi, yang fundamental adalah kualitas, terutama gameplay-nya. Beberapa orang mungkin akan membuat kesalahan dengan menekankan identitas terlebih dahulu lalu meniru gameplay-nya. Itu saja. Tapi kami tidak melakukan hal seperti itu.”
Liang mencatat, “Jadi, yang kami lakukan sekarang adalah ketika membuat game, kami melakukan semuanya secara abstrak. Kami melakukan semuanya dalam kotak abu-abu tanpa elemen budaya apa pun – dalam gameplay, pertarungan, dan eksplorasi.”
“”Kami melakukannya dengan model boneka putih dan aset placeholder. Kami memastikan desain gameplay-nya yang utama dan setelah desain ini solid, desain level, gerakan, serta pertarungannya juga solid. Setelah itu, kami memasukkan latar belakang budaya ke dalamnya, memastikan pencahayaan dan gerakan master Kung Fu-nya sesuai selera. Kami sangat berhati-hati dalam hal ini.”
Dalam wawancara terpisah dengan PC Gamer, Liang memberikan contoh bagaimana sebuah studio game mobile Tiongkok bertransisi menjadi studio game konsol/PC dengan investasi berulang.
“Ya—banyak orang membuat game untuk uang, tetapi kami menghasilkan uang untuk game,” ujar Liang sambil tertawa kecil. “Kami menghasilkan uang dari pasar mobile dan kami berpikir, awalnya, bahwa kami harus membuat game ini tanpa dukungan dari investor, jadi kami menginvestasikan semua uang kami dari game mobile ke Phantom Blade Zero.”
Cerita Phantom Blade Zero Memiliki “Nuansa Horor” Seperti Resident Evil
Di sisi lain, Liang mengungkapkan bahwa cerita Phantom Blade Zero memiliki semacam “nuansa horor” seperti Resident Evil, Silent Hill, atau Alan Wake.
“Ada beberapa patung menyeramkan yang bisa kamu selidiki dan NPC, para penyintas, di tanah. Dunia ini memang sepi, tetapi masih ada penyintas yang bisa kamu ajak bicara,” ungkap Liang.
“Mereka akan memberimu beberapa petunjuk tentang apa yang terjadi di sini. Efek suara, seperti suara gagak dan hal-hal lainnya, berpadu menjadi satu sehingga terasa seperti ‘horor rakyat’.”
Liang melanjutkan, “Dalam game kami, ancaman di latar belakang memberi sedikit nuansa horor, tetapi tidak sepenuhnya menakutkan. Kami akan menunjukkan lebih banyak alur cerita kami nanti dan itu merupakan elemen yang sangat penting dalam game kami.”
“Ceritanya didasarkan pada Rain Blood, sebuah game indie yang saya buat 15 tahun lalu. Ceritanya sangat apik tentang cinta dan balas dendam, dan menciptakan dunia fantasi bernama Phantom World. Semua ini akan ditunjukkan nanti.”
Ketika ditanya apakah elemen Metroidvania masuk ke dalam Phantom Blade Zero mengingat adanya opsi senjata sekunder, Liang tidak membantah asumsi tersebut.
“Saat kamu menjelajah, terutama di beberapa level pertama, kamu akan melihat banyak area terkunci, seperti beberapa dinding retak. Kamu tahu pasti ada sesuatu, tapi kamu tidak punya cara untuk membukanya,” ujar Liang.
“Jadi ya, kamu bisa mendapatkan senjata sekunder dalam prosesnya. Lalu kamu akan menyadari bahwa senjata-senjata ini bisa membuka beberapa tempat yang sebelumnya tidak bisa diakses. Ya, kamu harus kembali ke tempatmu sebelumnya untuk menemukan benda-benda rahasia. Game ini terinspirasi oleh game-game seperti Hollow Knight.”
Phantom Blade Zero akan rilis di PS5 dan PC, tetapi game ini belum memiliki tanggal rilis.


Membalas