Laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan investasi Tencent di Supercell, Epic Games, dan Riot Games.
Informasi ini dipublikasikan oleh Financial Times. Jika kalian tertarik dengan kondisi di industri game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.
Pemerintah Amerika Serikat Pertimbangkan Investasi Tencent di Riot Games, Epic Games, dan Supercell?
4 Maret 2026 – Financial Times melaporkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan apakah mereka akan mengizinkan Tencent untuk mempertahankan kepemilikannya di perusahaan-perusahaan game menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Tiongkok pada April 2026.
Menurut Financial Times, para pejabat kabinet di Gedung Putih telah mengadakan pertemuan internal untuk menilai apakah investasi Tencent di perusahaan-perusahaan game Amerika Serikat dan Finlandia menimbulkan risiko keamanan nasional.
Sebagai konteks, Tencent memiliki:
- 40 persen saham di Epic Games (Fortnite).
- 38 persen saham di Pocket Gems.
- 84,3 persen saham di Supercell (Clash of Clans).
- 100 persen saham di Klei Entertainment (Don’t Starve).
- 100 persen saham di Riot Games (League of Legends).
- 100 persen saham di Turtle Rock Studios (Back 4 Blood).
Financial Times menambahkan bahwa pertemuan antara beberapa pejabat kabinet di Gedung Putih, yang dijadwalkan pada 3 Maret 2026 untuk meninjau masalah tersebut, ditunda karena masalah penjadwalan.
Pada Maret 2022, direktur riset dan wawasan di Niko Partners, Daniel Ahmad, melaporkan bahwa Tencent mendominasi sektor game pada tahun 2021 berdasarkan pendapatan, disusul oleh Sony Interactive Entertainment dan Microsoft.
Pada Oktober 2022, Reuters melaporkan bahwa Tencent sedang mengalihkan strategi akuisisinya dan “secara agresif berusaha” untuk memiliki saham mayoritas di perusahaan game luar negeri.
Pada Januari 2023, Financial Times melaporkan bahwa pemerintah Tiongkok akan mengambil saham di Tencent.
Pada Januari 2024, Reuters melaporkan bahwa Tencent khawatir kehilangan statusnya sebagai perusahaan game terbesar di dunia.
Pada Januari 2025, Bloomberg melaporkan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah menambahkan Tencent dan CATL ke dalam daftar perusahaan militer Tiongkok.


Bales ke