Pemilik baru GOG, Michał Kiciński, telah mengungkapkan bahwa Windows bukan ekosistem terbaik di PC.
Informasi ini diungkapkan oleh Kiciński saat diwawancarai PC Gamer. Jika kalian tertarik dengan kondisi di industri game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.
Michał Kiciński: Windows Bukan Ekosistem Terbaik di PC
20 Januari 2026 – Berbicara dengan PC Gamer, pemilik baru GOG, Michał Kiciński, dan direktur pelaksana Maciej Gołębiewski ditanya apakah mereka tertarik melihat reaksi negatif terhadap Windows dan reaksi positif terhadap Linux.
“Ya, kami tertarik,” jawab Gołębiewski. “Bahkan, GOG telah menjadikan Linux sebagai salah satu hal yang kami masukkan dalam strategi kami tahun ini untuk diteliti lebih lanjut.”
Gołębiewski melanjutkan, “Saya tidak ingin memberikan komitmen spesifik apa pun, tetapi tentu Anda akan melihat tren ini, dan kami juga melihat bahwa Linux dekat di hati pengguna kami, jadi kami mungkin dapat berbuat lebih baik di bidang itu, dan itu adalah sesuatu yang akan kami perhatikan.”
“Saya benar-benar terkejut dengan Windows,” timpal Kiciński. “Ini software dan produk berkualitas sangat buruk, dan saya sangat terkejut bahwa [Windows] telah bertahan di pasaran selama bertahun-tahun. Saya tidak percaya!”
Meskipun Kiciński telah beralih ke macOS, ia terkadang harus “memperbaiki komputer ibu saya atau komputer ayah saya yang menggunakan Windows”.
“Jadi saya tidak heran jika orang-orang beralih ke luar ekosistem Windows. Ini bukan ekosistem terbaik,” tambah Kiciński.
GOG Tertarik Terbitkan Game Indie
Berbicara dengan Eurogamer, pemilik baru GOG, Michał Kiciński, mengungkapkan bahwa mereka tertarik untuk menerbitkan game indie.
“Saya juga merupakan salah satu pemilik perusahaan penerbitan game indie bernama Retrovibe,” ungkap Kiciński.
“Jadi, salah satu arah yang sebelumnya tidak terlalu memungkinkan adalah mengembangkan GOG lebih jauh menjadi bisnis penerbitan dan itu adalah sesuatu yang pasti akan kita diskusikan.”
Kiciński melanjutkan, “Belum ada keputusan yang dibuat, tetapi ini membuka area aktivitas baru bagi GOG, yang sebelumnya tidak terlalu memungkinkan bersama CD PROJEKT RED sebagai satu grup, karena di CD PROJEKT RED, semua aktivitas penerbitan terhubung dengan game mereka sendiri, dan mereka tidak ingin mengalihkan perhatian ke topik lain.”
Menurut Kiciński, penjualan GOG terjadi karena perusahaan seperti CD PROJEKT memiliki dua entitas dengan ukuran yang sangat berbeda dalam satu grup.
“Tentu saja, perhatian dan sumber daya akan terfokus pada bagian yang lebih besar, dan bagian yang lebih kecil memiliki beberapa keuntungan tetapi juga memiliki beberapa kesulitan karena menjadi adik yang jauh lebih kecil dalam lingkungan seperti itu,” ujar Kiciński.
Direktur pelaksana Maciej Gołębiewski juga memperhatikan hal sebaliknya yang terjadi selama 10 tahun terakhir ia bekerja di GOG.
“CD PROJEKT RED, sejak saya bergabung dengan perusahaan ini, telah berkembang pesat dan menjadi organisasi yang jauh lebih kompleks, tersebar di berbagai benua,” ungkap Gołębiewski.
“GOG adalah perusahaan yang relatif kecil dan lincah. Memiliki satu pemilik tunggal menyederhanakan banyak hal dalam hal potensi pengambilan keputusan atau selera risiko.”
Gołębiewski melanjutkan, “Perusahaan besar yang terdaftar di bursa saham publik: mungkin sedikit lebih rumit atau kompleks untuk menjalankan hal-hal yang berisiko.”
“Itu poin yang bagus,” timpal Kiciński. “Saya tahu dari proyek-proyek lain yang saya ikuti bahwa proses pengambilan keputusan sangat mudah.”
Kiciński melanjutkan, “Saya sangat mudah dihubungi dan keputusan dapat dibuat dengan cepat, dan juga, saya tidak takut mengambil risiko sebagai investor swasta.”
Michał Kiciński Bahas Pertimbangan GOG dalam Membawa Kembali Game Multiplayer yang Sudah Mati
Dalam topik terpisah, Gołębiewski ditanya oleh Eurogamer apakah GOG dapat memulihkan game multiplayer yang telah mencapai akhir siklus hidupnya, atau, seperti yang kita ketahui, telah dimatikan.
“Pelestarian game adalah teka-teki yang sangat rumit,” ujar Gołębiewski. “Saya hanya akan membahas teka-teki tingkat atasnya.”
Gołębiewski melanjutkan, “Ada teka-teki IP dan kepemilikan, ada aspek teknisnya, dan ada teka-teki ketiga tentang bagaimana membuat kebangkitan tersebut layak secara komersial, karena tidak ada yang dapat melakukannya hanya untuk niat baik, karena bukan seperti itu gaji dibayarkan.”
“Menghidupkan kembali dan menghadirkan kembali game multiplayer sangat kompleks, sesuatu yang sangat sulit, tetapi hal ini jelas menjadi bahan diskusi di antara para gamer, regulator, dan penerbit.”
Menurut Gołębiewski, ada diskusi yang lebih luas yang perlu dilakukan di dalam industri game tentang seperti apa siklus akhir hidup (end-of-life cycle) dalam sebuah game.
“Apa siklus akhir hidup yang adil untuk sebuah game?” tanya Gołębiewski.
“Apakah game itu harus dikubur dan dimatikan, dan tidak ada yang dapat mengaksesnya lagi, dan orang-orang yang menghabiskan lima atau tujuh tahun untuk mengerjakannya tidak dapat lagi melihat karya mereka karena layanannya dimatikan?”
Gołębiewski melanjutkan, “Ada diskusi yang sangat menarik dan sangat rumit yang mungkin dipicu oleh Stop Killing Games karena frustrasi. Kami ingin membuat game bisa bertahan selamanya.”
“Pada saat yang sama, jika kita terlalu banyak membatasi para kreator game dan bagaimana siklus akhir masa pakainya, kita mungkin akan mendapatkan lebih sedikit game, karena orang-orang akan takut, ‘Oke, sekarang saya perlu menyediakan dana untuk membuatnya, mempromosikannya, dan memeliharanya selama 10 tahun, 20 tahun, karena regulator mengatakan demikian.’”
Gołębiewski menambahkan, “Hal itu pada akhirnya dapat menyebabkan berkurangnya game-game keren untuk para gamer. Saya belum memiliki jawaban yang sempurna, tetapi bagus bahwa diskusi ini sedang berlangsung.”


Bales ke