Epic Games kembali menarik perhatian industri game global setelah memamerkan Unreal Engine 6 (UE6) dalam ajang Unreal Fest. Versi terbaru dari engine andalan mereka ini bukan hanya sekadar peningkatan grafis, tetapi juga membawa transformasi besar dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dari model populer seperti Google Gemini dan Claude.
Dalam presentasinya, Epic menjelaskan bahwa UE6 dirancang sebagai platform pengembangan generasi baru yang lebih terbuka dan efisien. Salah satu inovasi utamanya adalah dukungan native terhadap Large Language Models (LLM), yang memungkinkan AI berperan langsung dalam proses produksi game.
AI Membantu Unreal Engine 6 dalam banyak hal

Teknologi ini dapat membantu pengembang melakukan berbagai tugas teknis seperti pembuatan aset, pengaturan scene, hingga optimasi workflow secara lebih cepat. Integrasi AI tersebut tidak berdiri sendiri.
Epic menegaskan bahwa UE6 akan menggabungkan kekuatan Unreal Engine 5 dan Unreal Editor for Fortnite (UEFN) ke dalam satu ekosistem terpadu. Dengan pendekatan ini, pengembang diharapkan bisa bekerja lebih fleksibel, sekaligus memanfaatkan pipeline yang lebih terhubung antar platform.
Selain AI, UE6 juga membawa fondasi baru melalui sistem Scene Graph berbasis bahasa pemrograman Verse, yang dirancang untuk mendukung pengembangan dunia virtual berskala besar. Epic juga menyoroti konsep interoperabilitas aset digital, di mana item seperti kosmetik atau karakter dapat digunakan lintas game dalam ekosistem Unreal.
Meskipun masih dalam tahap pengembangan, UE6 dijadwalkan hadir dalam versi early access pada akhir 2027. Epic menegaskan bahwa AI di engine ini bersifat opsional dan tetap memberi kontrol penuh kepada kreator manusia, menandai pendekatan keseimbangan antara inovasi teknologi dan kreativitas industri game.


Bales ke