Game indie asal Indonesia berjudul Running Train tengah menjadi sorotan setelah mencatat kesuksesan yang cukup signifikan di pasar internasional. Namun di sisi lain, capaian tersebut justru dibayangi oleh masalah serius di dalam negeri, yakni maraknya pembajakan yang membuat distribusi resmi game ini mengalami kerugian dan tantangan besar.
Running Train merupakan game simulasi berbasis perjalanan kereta yang menggabungkan elemen naratif, manajemen rute, dan eksplorasi suasana perjalanan lintas wilayah. Dengan visual sederhana namun atmosferik, game ini berhasil menarik perhatian pemain luar negeri yang mengapresiasi pendekatan storytelling dan pengalaman imersif yang ditawarkan.
Game Lokal – Running Train yang disambut positif

Di platform distribusi digital global, game ini mendapatkan respons positif dari komunitas gamer internasional. Banyak pemain memuji konsepnya yang unik, desain suara yang realistis, serta pendekatan emosional dalam menggambarkan perjalanan dan interaksi antar karakter di dalam kereta.
Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak sepenuhnya dirasakan di Indonesia. Menurut postingan dari pengembangnya bernama Rizky Nova dari Novatetsu Games membagikan keluh kesahnya tentang game yang telah ia kembangkan selama 4 tahun tersebut.
Tentu keluh kesah ini kembali menyoroti masalah klasik industri game lokal, yaitu rendahnya kesadaran terhadap pembelian produk digital secara legal. Padahal, dukungan terhadap karya developer lokal sangat penting untuk keberlanjutan industri kreatif di Indonesia.
Keluh Kesah sang Developer

Menurut postingannya, ia mengatakan bahwa belum satu minggu game tersebut rilis, sudah banyak bermunculan game Running Train yang dijual sangat murah melalui Marketplace, bukan dibeli langsung di platform legal seperti Steam.
Selain itu, karena game ini self-publishing, hampir seluruh kebutuhan perilisan juga ditangani oleh dirinya, mulai dari pembuatan halaman Steam, artwork, deskripsi, lokalisasi, pembagian key kepada tester, pemasaran sampai trailer, hingga pengurusan badan hukum dan rekening bisnis.
Sampai detik ini, masih banyak laporan bug dari tester, dan ia harus memperbaiki bug tersebut setiap hari tanpa henti, bahkan sampai membuatnya terkena tipes pada minggu pertama game tersebut rilis.
Ia juga menegaskan bahwa game ini masih tahap early acces, dan pekerjaannya belum sepenuhnya selesai. Ia juga sangat terharu ada banyak sekali gamer yang suka dan menikmati game yang ia ciptakan sendiri dalam waktu 4 tahun ini.
Terakhir, meski menghadapi tantangan pembajakan, Running Train tetap menjadi bukti bahwa game buatan Indonesia mampu bersaing di kancah global. Kini harapannya, kesuksesan di luar negeri bisa menjadi pemicu perubahan sikap di dalam negeri agar karya lokal lebih dihargai dan dilindungi.


Bales ke