Menjadi detektif adalah sesuatu pekerjaan yang menarik dan memiliki aura misteri, tetapi apa jadinya jika kalian menjadi “detektif supernatural”? Gamedaim telah mendapatkan kesempatan spesial dari SEGA dan ATLUS untuk memainkan dan menulis review Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army.
Berikut adalah review Gamedaim setelah memainkan Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army selama 54 jam di PC. Perlu dicatat bahwa SEGA hanya memperbolehkan kami membahas konten game ini hingga Episode 8.
Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army sudah tersedia di PS5, Xbox Series X, Xbox Series S, Nintendo Switch 2, PS4, Nintendo Switch, dan PC (Steam).
Review Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army
“Detektif Supernatural” di Era Taisho

Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army dimulai dengan memperkenalkan karakter Raidou Kuzunoha XIV, seorang detektif berusia SMA di Jepang yang juga dikenal sebagai “Devil Summoner”.
Raidou dan kucingnya, Gouto Douji, bekerja di Narumi Detective Agency yang dikepalai oleh kepala detektif Shohei Narumi. Raidou berada di sana di bawah perintah Yatagarasu, sebuah organisasi misterius yang didedikasikan untuk melindungi masa depan Jepang dari ancaman dunia lain. Sebagai pelindung Tokyo, tugas Raidou adalah menghalau ancaman demon atau ancaman dunia lain terhadap ibu kota Jepang tersebut.
Perkenalan di Episode 1 akan sangat membuka rasa ingin tahu karena kalian langsung diperkenalkan dengan organisasi misterius Yatagarasu dan mempertanyakan tugas “Devil Summoner” itu seperti apa. Dengan adanya tutorial di awal cerita, kalian akan dibiasakan dengan menu dan tombol-tombol yang akan digunakan secara dominan selama memainkan game ini sambil menyerap latar belakang ceritanya.

Selama penyelidikan rutin untuk agensi di Episode 1, Raidou dan Narumi bertemu dengan klien mereka, seorang gadis SMA bernama Kaya Daidoji. Dia secara misterius meminta keduanya untuk membunuhnya, tetapi sebelum Raidou dan Narumi dapat bertanya lebih lanjut, tentara berbaju besi dan berjubah merah muncul, menculik Kaya, dan melawan Raidou.
Secepat mereka muncul, para prajurit itu menghilang, bersama dengan Kaya, meninggalkan Raidou dan Narumi yang terpana. Narumi percaya bahwa mereka bertanggung jawab untuk melacak keberadaan Kaya dan memecahkan misteri permintaannya, karena Narumi Detective Agency secara teknis menerima kasus ini dan jelas bagi keduanya bahwa ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi.
Ketika kalian gagal melindungi Kaya, game ini akan membuka ceritanya secara bertahap dengan mendorong kalian untuk melakukan “fetch quest” yang dibalur tema detektif. Raidou akan mengeksplorasi lokasi Tsukodo-Cho (Shinjuku) untuk mencari jejak terkait prajurit merah yang dilawannya.

Salah satu saran saya adalah nikmatilah game ini dengan mengajak bicara NPC tertentu, karena para NPC yang kalian temukan memiliki cerita yang memberikan konteks lebih luas terkait dunia Raidou saat ini, mulai dari budaya, karakteristik, hingga tema yang dieksplorasi oleh ATLUS sejak hampir 20 tahun lalu. Namun, ada waktunya kalian sadar bahwa hal seperti ini terkadang sering membuang waktu.
Setelah puas mengeksplorasi Tsukodo-Cho hingga mencoba berbagai karakteristik demon untuk mendengar pikiran NPC, kalian akan dituntun untuk mengunjungi Daidouji Residence agar melihat petunjuk terkait alasan kaburnya Kaya.
Di saat ini, kalian akan diperlihatkan bagaimana demon kalian tidak hanya tidak bisa dilihat oleh orang-orang disekitar, tetapi juga kalian bisa menggunakan demon untuk melakukan investigasi ke tempat-tempat tertentu yang tidak bisa diakses oleh Raidou.

Namun, kalian harus melakukan “fetch quest” ala detektif terlebih dahulu dan saatnya kalian mulai memanfaatkan Express Streetcars tanpa harus mengunjungi sebuah tempat lagi. Tetapi ingat kembali, setiap kalian pergi ke tempat yang jauh jaraknya, maka itu akan merogoh biaya.
Salah satu bagian positif dari pembagian tempat ini adalah kalian bisa mengeksplorasi jalan-jalan tertentu dengan bentukan “top view”. Ini juga menjadi salah satu ciri khas game lama dan identitas game-game Megami Tensei ketika mengekplorasi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Raidou nantinya akan disuruh mengunjungi Nameless Shrine untuk mengakses Dark Tsukodo-Cho melalui ritual khusus yang dilakukan oleh Herald of Yatagarasu. Dark Tsukodo-Cho identik dengan Tsukudo-cho, tetapi memiliki sekelompok demon yang berkeliaran sebagai NPC atau musuh.

Setelah menyelamatkan teman Kaya, Rin, dari cengkraman demon di Dark Tsukodo-Cho, Gotou akan memberi tahu Raidou tentang Aril Rifts dan Case Files, yang esensinya berupa misi sampingan. Setelah itu, kalian akan kembali ke Daidouji Residence untuk mengungkap misteri di balik hilangnya Kaya.
Cukup menarik bukan? Perlu dicatat bahwa deskripsi ini hanya berupa rangkuman dari Episode 1 dan saya bisa saja membahas konten game ini hingga Episode 8 karena ada izinnya, tetapi karena sangat panjang dan rumit, maka saya membahas intinya saja.
Intinya adalah game ini memiliki struktur episodik dan memiliki alur eksplorasi -> investigasi masalah -> mengunjungi overworld -> menyelesaikan masalah. Ini terjadi di setiap Episode yang disuguhkan oleh ATLUS untuk Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army.

Namun, alur ini memang bisa diubah oleh ATLUS tergantung bagaimana mereka menavigasi kisah Raidou di game ini. Misalnya, di Episode tertentu ada alur yang langsung dari investigasi masalah -> mengunjungi overworld tanpa adanya eksplorasi.
Linearitas sebuah alur dapat terbaca jika selalu digunakan secara rutin, tetapi merubahnya di bagian terentu adalah sebuah langkah unik yang harus dicoba. ATLUS melakukan hal ini dan saya bisa akui apa yang disuguhkan dalam alur mereka memang membuat pemain selalu penasaran.
Sangat tidak heran apabila ada sedikit kekecewaan di antara penggemar ketika ATLUS hanya mengumumkan Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army tanpa mengumumkan remaster untuk game keduanya, Devil Summoner 2: Raidou Kuzunoha vs. King Abaddon, layaknya anak kembar yang dipisah karena alasan tertentu. Semua orang suka dengan aspek misteri dan detektif, dan game ini sangat cocok dengan keinginan mereka.
RPG Aksi yang Berhasil Bertahan dengan Perubahan Zaman, Namun Menu-nya Menjadi Rumit

Sesuatu yang dapat saya apresiasi dari Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army adalah aspek RPG aksi yang masih kental dan berhasil bertahan dengan perubahaan zaman. Tidak seperti Persona yang menggunakan sistem pertarungan turn-based, sistem pertarungan yang digunakan dalam game ini adalah real-time.
Karakter utama, Raidou, dapat menyerang dengan pedang atau pistol dan dia dapat memanggil berbagai macam demon dari koleksinya, yang bisa dilakukan dengan menangkap demon atau melakukan fusion dan summoning demon. Pertarungan akan ditemui kalian secara acak saat melakukan eksplorasi di dunia nyata dan overworld, dengan demon yang berbeda muncul tergantung di mana pemain berada.
Perombakan yang terlihat jelas dari sistem pertarungan ini adalah penambahan MAG Drain System, Summoner Skills, Sword Skills, Devil’s Bane, dan Spirit Slash. Aspek-aspek ini membuat RPG aksi yang sudah kental menjadi lebih imersif lagi karena penambahan ini memberikan “angin segar” agar tidak terlalu monoton.

Misalnya, MAG Drain System menjadi penentu utama apakah karakter utama kalian dapat melakukan Summoner Skills, Sword Skills, Devil’s Bane, dan Spirit Slash. Ini berarti kalian harus belajar selektif dalam bertarung dengan demon-demon tertentu karena MAG sendiri sangat mudah habis jika tidak digunakan secara efektif.
Selain itu, penambahan Shooting Mode, Symbol Encounter System, Art of Confinement, dan Stealth Strike di sistem pertarungan menjadikan game ini lebih bervariasi, meskipun pada akhirnya penambahan-penambahan ini malah menjadikan remaster game pertama ini lebih mirip seperti game keduanya, Devil Summoner 2: Raidou Kuzunoha vs. King Abaddon.
Namun, penambahan-penambahan ini juga memunculkan kekurangan yang saya rasa dari awal hingga akhir: Menu-nya menjadi rumit. Ini adalah masalah mencolok yang dapat merusak imersif yang diinginkan ATLUS karena ada banyak tombol yang perlu diperkenalkan dan setengahnya mungkin tidak digunakan sama sekali oleh pemain.

Misalnya, ATLUS memperkenalkan fitur Quick Save dan Auto Save, tetapi pilihan Quick Save lebih mudah diakses jika kalian menggunakan tombol khusus untuk membuka menu cepat daripada membuka menu utama.
Di sisi lain, karena kalian beradaptasi dengan tombol khusus tersebut, kalian lupa bahwa kalian dapat melakukan demon summoning dengan tombol panah bawah tanpa harus mengaksesnya melalui menu cepat. Ini adalah masalah yang terkadang merusak gameplay, terutama jika kalian hanya memainkan game ini sesekali, dan ketika kalian kembali, kalian hampir melupakan semuanya.
Jika berbicara tentang demon, maka kurang rasanya jika tidak berbicara tentang fusion dan summoning, aspek yang tidak bisa lepas dari Megami Tensei. Dalam remaster ini, ATLUS telah menambahkan slot demon hingga lebih dari 120 dan memperbolehkan pemain untuk merekrut demon yang sama.

Selain itu, ATLUS menambahkan Sword Alchemy, Premium Devil Chart, Search Fusion, dan Reverse Fusion agar pemain lebih mudah menavigasi Goumaden. Perubahan yang mencolok, dan mungkin dipengaruhi oleh Persona, adalah Skill Inheritence dan Passive Skills, yang sekarang bisa ditambahkan ke hasil fusion demon kalian.
Jujur, aspek ini justru akan menjadi dominan di Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army karena kalian memang harus melakukannya jika ingin menyelesaikan game tersebut dan pemain yang sudah terbiasa dengan fusion dan summoning akan berlompat bahagia mendengarnya. Kekurangannya? Kalian perlahan mulai melupakan Art of Confinement karena argumennya sederhana: Untuk apa saya menangkap demon lagi jika saya bisa mendapatkannya lewat fusion dan summoning.
Perombakan di aspek eksplorasi juga sangat terasa, dengan ATLUS menambahkan Express Streetcars dan Save Points untuk semua lokasi yang sudah dikunjungi oleh Raidou sehingga kalian tidak perlu menghabiskan waktu untuk menggapai lokasi tertentu.
Remaster atau Remake?

Meskipun ATLUS menggambarkan game ini sebagai remaster, saya masih melihatnya sebagai “remade”, sebuah campuran dari aspek remaster dan remake. Kenapa saya bisa bilang seperti itu? Karena kualitas remaster ini tergolong “tinggi” untuk dikatakan sebagai remaster.
Misalnya, sistem pertarungan saat kalian bertemu dengan demon sudah dirombak secara signifikan sehingga sekarang ada “arena virtual” yang memisahkan aspek eksplorasi dan pertarungan. Perombakan ini bisa saja dikategorikan sebagai remake, tetapi karena esensinya tetap tidak berubah, maka ATLUS melihatnya sebagai remaster.
Selain itu, perombakan lainnya yang berjalan di antara remaster dan remake adalah permainan kamera. Meskipun eksplorasi masih sesuai dengan esensi awal game aslinya dengan menggunakan “fixed camera”, sistem pertarungannya sudah dibebaskan dan berubah menjadi “free rotate camera” yang membuat pengalaman pemain lebih mendalam lagi.

Saya tidak tahu garis apa yang dilihat oleh ATLUS untuk menentukan remaster dan remake, tetapi jika melihat Persona 3 Reload (yang digolongkan sebagai remake), maka aspek perombakan menjadi penentu apakah game mereka masuk ke dalam kategori remake atau remaster.
Jika game klasik ATLUS mengalami perombakan seluruhnya hingga esensi game aslinya berubah total? Maka itu remake. Jika perombakannya hanya di bagian-bagian tertentu seperti sistem pertarungan, permainan kamera, dll? Maka itu remaster (atau bagi saya, remade).
Jujur, jika ATLUS merombak “fixed camera” di sisi eksplorasi dan menjadikannya “free rotate camera”, saya akan sebut game ini sebagai remake karena pengalaman dan esensinya akan sangat berbeda dari game aslinya, terlepas dari bagaimana ATLUS melihatnya.

Di luar itu, saya sangat mengapresiasi arahan seni yang dipilih oleh ATLUS untuk Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army, di mana mereka berani memainkan variasi warna sehingga hasilnya lebih cerah dan enak untuk dilihat oleh mata. Saya bahkan harus melihat kembali versi aslinya seperti apa untuk melihat komparasi perubahannya dan saya harus akui, kualitasnya sangat jauh berbeda.
Salah satu contoh yang nyata adalah perombakan UI, yang saya rasa ada pengaruh yang signifikan dari Persona, meskipun remaster ini masih memegang esensi utama dari game aslinya. Ini sangat wajar mengingat hampir 20 tahun sejak game aslinya rilis dan ATLUS sudah merilis berbagai macam game sehingga hal ini tidak dapat dihindari. Contoh lainnya adalah penambahan sulih suara untuk karakter-karakter tertentu serta Mini Map dan Objective yang membuat pengalaman pemain lebih imersif.
Sesuatu yang harus dicatat adalah remaster seperti Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army bisa menjadi tolak ukur bagi ATLUS jika mereka ingin merilis game-game klasik lainnya ke platform modern. “Usaha” adalah faktor utama yang membedakan ATLUS dengan perusahaan lainnya dalam hal remaster.
Bawa Rasa Rock and Roll, Tetapi Sulih Suaranya Kurang
Salah satu nilai jual Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army adalah musik. Tentunya ini bisa terjadi berkat Shoji Meguro, Tsukasa Masuko, Toshiko Tasaki, dan para aransamen yang membantu membawa musik-musik game aslinya ke platform modern.
Pengaruh Meguro sangat terlihat jelas karena ia selalu menentukan pembuatan musiknya dengan tema yang diambil. Dalam kasus Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army, tema yang diambil adalah Rock and Roll, dengan elemen trumpet dan gitar menjadi aspek yang dominan.
Saya bisa katakan semua hasil aransemen yang dibuat dari musik game aslinya sangat bagus dan tidak ada rasa canggung. Biasanya, sebuah musik yang di-aransemen ulang akan menghasilkan rasa yang berbeda dari aslinya dan membuat pemainnya canggung, entah itu karena ada tambahan melodi, komposisi, dan sebagainya, tetapi kali ini ATLUS bisa membawa rasa asli tersebut ke versi remaster dengan sangat handal.
Musik yang saya suka dari remaster ini adalah “Theme” dan “Lax Detective Agency”, di mana kedua musik tersebut memberikan pernyataan jelas bahwa tim musik ATLUS ingin membawa rasa Rock and Roll milik Meguro tanpa mengorbankan sesuatu yang signifikan.
Sayangnya, kualitas musik ini tidak didukung dengan kualitas sulih suaranya. Saya yakin banyak pemain yang menyadari kualitas sulih suara dan animasi bibir karakternya terlihat kaku dan timing-nya kurang pas, terutama jika kalian memainkan game ini dalam versi dub Inggris.
Sebenarnya jika kalian tidak fokus ke bibir karakter yang lagi berbicara, kalian tidak akan menemukan masalah ini tetapi karena Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army memiliki banyak cutscene dan terkadang sering melakukan permainan kamera yang mendekati wajah karakter, terkadang masalah itu menjadi jelas terpampang di depan muka.
Ada New Game+

Dalam Raidou Remastered: The Mystery of the Soulless Army, kalian akan disuguhkan opsi New Game+ apabila sudah menamatkan game tersebut. Opsi ini sebenarnya menambahkan kesulitan musuh sehingga jika Raidou mati, kalian tidak dapat kesempatan kedua. Opsi ini juga hanya diperuntukan bagi mereka yang ingin menyelesaikan thropy/achievement agar faktor replayability-nya bisa muncul. Di luar itu, opsi ini tergolong opsional.
Apa saja yang dibawa progress-nya? Yang pertama adalah Devil List yang ada di Goumaden. Yang kedua adalah Loyalty dan Titles yang dikumpulkan oleh Raidou. Yang terakhir adalah peringkat di Konnou-ya dan Shin Sekai terkait apakah kalian sudah membuka semua item dan minimuman atau tidak.
Progress seperti Case File dan Sword Collection, dan Combat Skill juga terbawa, tetapi kalian tetap harus menyelesaikannya secara bertahap di New Game+.


Bales ke