BeritaResmi

Usulkan Adopsi AI, CEO SHIFT UP Klaim Korea Kurang Mampu Bersaing dengan Tiongkok dalam Pembuatan Game

"Kami mengerahkan sekitar 150 orang untuk satu game, tetapi Tiongkok mengerahkan antara 1.000 dan 2.000 orang," ujar Kim seperti yang diterjemahkan oleh Automaton.

CEO SHIFT UP, Hyung-tae Kim, telah mengungkapkan bahwa Korea Selatan kurang mampu bersaing dengan Tiongkok dalam pembuatan game.

Informasi ini dipublikasikan oleh GameMeca. Jika kalian tertarik dengan kondisi di industri game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.

Usulkan Adopsi AI, CEO SHIFT UP Klaim Korea Kurang Mampu Bersaing dengan Tiongkok dalam Pembuatan Game

18 Januari 2026 – Selama pengarahan nasional tentang “2026 Economic Growth Strategy” Korea Selatan, CEO SHIFT UP, Hyung-tae Kim, menyampaikan pandangannya tentang AI.

Pengarahan tersebut, yang diawasi oleh presiden Korea Selatan, dihadiri oleh pejabat pemerintah utama, dengan Kim mewakili sektor swasta di antara pemilik bisnis terkemuka lainnya.

Mengomentari situasi industri game Korea Selatan, Kim mengungkapkan rasa krisis tentang keunggulan Tiongkok dalam aspek tenaga kerja dan penggunaan AI akan sangat diperlukan untuk mengatasi kesenjangan ini.

Dengan sekitar 80 persen pendapatan SHIFT UP berasal dari pasar luar negeri, Kim melihat game-game Tiongkok merupakan saingan yang tangguh.

“Kami mengerahkan sekitar 150 orang untuk satu game, tetapi Tiongkok mengerahkan antara 1.000 dan 2.000 orang,” ujar Kim seperti yang diterjemahkan oleh Automaton. “Kita kekurangan kapasitas untuk bersaing, baik dari segi kualitas maupun volume konten.”

Kim berpendapat bahwa adopsi AI secara luas tidak akan mengakibatkan orang kehilangan pekerjaan, karena bersaing dengan industri besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat tidak hanya membutuhkan pemanfaatan seluruh tenaga kerja yang tersedia, tetapi juga membuat semua orang mahir dalam AI sehingga “satu orang dapat melakukan pekerjaan 100 orang”.

Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Hwi-young Chae, mendukung pernyataan Kim dengan mengatakan: “Beberapa perusahaan game besar sudah memiliki teknologi AI mereka sendiri, dan mereka juga merancang program untuk tumbuh bersama dengan studio kecil dan menengah.”

Chae menjelaskan bahwa pemerintah Korea Selatan akan berupaya memberikan dukungan finansial untuk peralihan ke AI, dengan investasi yang direncanakan untuk tahun 2026.

Pada Oktober 2025, CEO Changhan Kim telah mengumumkan transformasi Krafton menjadi perusahaan “AI First”.

Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai Analis Kimia, Fransiskus memutuskan untuk mengejar impiannya di bidang jurnalistik dan telah aktif meliput industri game sejak tahun 2020. Saat ini, ia tengah mendalami studi di bidang Hubungan Masyarakat (Humas).…
Leave Comment

Related Posts

Load More Posts Loading...No more posts.